PAPUA – Tim gabungan yang melakukan operasi pencarian pascaledakan bom sisa peninggalan Perang Dunia II di Kabupaten Biak Numfor, Papua, menemukan 13 potongan tubuh korban di sekitar lokasi kejadian. Temuan tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam proses evakuasi dan identifikasi korban ledakan yang mengguncang Kompleks Perikanan Kampung Yenures, Distrik Biak Kota.
Penemuan potongan tubuh itu dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari personel kepolisian, Basarnas, serta unsur terkait lainnya saat menyisir area terdampak ledakan yang terjadi pada Minggu (31/5/2026).
Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan mengatakan proses pencarian masih terus berlangsung karena masih ada korban yang belum ditemukan hingga saat ini.
“Tim gabungan yang melibatkan Basarnas berhasil menemukan 13 serpihan atau potongan bagian tubuh,” kata Ari dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026).
Menurut Ari, seluruh bagian tubuh yang ditemukan di lokasi kejadian telah dievakuasi dan diserahkan kepada Tim Identifikasi Polda Papua serta RSUD Biak untuk menjalani pemeriksaan forensik lebih lanjut.
Langkah identifikasi menjadi bagian penting dalam penanganan tragedi tersebut. Aparat berupaya memastikan identitas setiap korban guna memberikan kepastian kepada keluarga yang masih menunggu informasi terkait kerabat mereka.
Pencarian Korban Masih Berlangsung
Meski telah menemukan sejumlah bagian tubuh korban, operasi pencarian belum dihentikan. Tim gabungan masih berupaya menemukan tiga korban lain yang hingga kini dilaporkan belum diketahui keberadaannya.
Petugas melakukan penyisiran secara intensif di area yang dinilai aman untuk dimasuki. Fokus pencarian sementara diarahkan ke kawasan pantai dan perairan yang berada di sekitar lokasi ledakan.
“Fokus pencarian saat ini dilakukan di area Ring 2, khususnya wilayah pantai dan perairan sekitar lokasi kejadian,” ujar Ari.
Penyisiran dilakukan dengan mempertimbangkan kemungkinan korban atau bagian tubuh korban terpental akibat kuatnya daya ledak yang terjadi.
Sementara itu, area yang diyakini sebagai pusat ledakan belum dapat dijangkau secara maksimal oleh petugas karena alasan keselamatan.
“Sementara area Ring 1 yang diduga menjadi sumber ledakan masih belum dinyatakan aman atau steril sehingga belum dapat dilakukan pencarian secara maksimal,” lanjutnya.
Kondisi tersebut membuat tim harus bergerak hati-hati untuk menghindari potensi bahaya lain yang mungkin masih tersisa di lokasi.
Proses Identifikasi Jadi Prioritas
Penemuan 13 potongan tubuh menunjukkan besarnya dampak ledakan yang terjadi di kawasan perikanan tersebut. Aparat kini menempatkan proses identifikasi sebagai salah satu prioritas utama agar jumlah korban dapat dipastikan secara akurat.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Papua bersama tenaga medis RSUD Biak akan melakukan serangkaian pemeriksaan guna mencocokkan identitas korban dengan laporan keluarga.
Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu karena kondisi jenazah dan potongan tubuh yang ditemukan harus diperiksa secara mendetail menggunakan metode forensik.
Selain itu, aparat juga masih melakukan pendataan terhadap korban luka maupun warga yang terdampak langsung oleh insiden tersebut.
Korban Tewas Lima Orang, Tiga Masih Hilang
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun aparat, ledakan bom peninggalan Perang Dunia II itu telah menyebabkan lima orang meninggal dunia. Sementara tiga orang lainnya masih dalam status pencarian.
Selain korban jiwa, sebanyak 18 warga mengalami luka ringan. Dua di antaranya masih menjalani perawatan medis di RSUD Biak, sedangkan korban lain telah diperbolehkan pulang.
Peristiwa tersebut juga memaksa puluhan warga mengungsi demi alasan keselamatan. Tercatat sebanyak 56 warga meninggalkan area sekitar lokasi ledakan, terdiri dari 43 orang dewasa dan 13 balita.
Hingga kini, tim gabungan masih terus melakukan pencarian dan sterilisasi area untuk memastikan tidak ada korban lain maupun potensi ancaman dari sisa bahan peledak yang masih berada di sekitar lokasi kejadian.