Sebuah video mengharukan yang memperlihatkan seorang ayah tengah mengoleskan arang hitam ke pergelangan kaki anak lak-lakinya sukses menyayat hati jutaan netizen. Aksi kreatif sekaligus memilukan tersebut dilakukan agar sang anak terlihat seolah-olah sedang mengenakan kaos kaki hitam demi bisa mematuhi peraturan di sekolahnya.
Video yang diunggah sejak Maret lalu ini mendadak meledak kembali dan viral luas di berbagai platform media sosial. Hingga saat ini, video tersebut tercatat telah ditonton lebih dari 19 juta kali dan memicu gelombang empati serta doa dari masyarakat Indonesia.
Klarifikasi Sang Ayah: “Ini Kisah Nyata, Bukan Konten”
Guna meluruskan berbagai spekulasi, sang ayah akhirnya muncul memberikan klarifikasi langsung melalui akun TikTok pribadinya, @191088martino.
Berikut fakta-fakta mendalam di balik sosok ayah dan anak yang tengah menjadi buah bibir tersebut:
-
Identitas: Sang ayah bernama Yanto Tefi, dan putranya adalah Marciano Tefi (9 tahun), seorang siswa kelas 3 SD.
-
Lokasi: Mereka tinggal di Desa Lanut, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).
-
Kejadian Asli: Yanto menegaskan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi pada Maret 2026 lalu, murni karena kondisi mendesak dan bukan video rekayasa demi engagement media sosial.
“Video yang kami buat itu diambil dari kisah nyata, jadi bukan konten-konten saja,” tegas Yanto.
Kronologi Pilu: Gagal Sekolah karena Arang Luntur Terbawa Arus Sungai
Yanto bercerita, pagi itu Marciano sudah rapi dan siap berangkat menuntut ilmu, namun mereka menyadari bahwa kaos kaki milik Marciano hilang entah ke mana. Di sisi lain, pihak sekolah menerapkan aturan disiplin yang ketat di mana seluruh siswa wajib mengenakan kaos kaki (baik warna hitam, merah, maupun kuning).
Karena keterbatasan ekonomi untuk membeli yang baru secara mendadak, Yanto memutar otak. Ia mengambil sebongkah arang dapur hitam lalu mengoleskannya dengan cermat ke kaki Marciano agar anaknya tidak dihukum atau dipulangkan oleh pihak sekolah.
Sayangnya, perjuangan Marciano pagi itu harus kandas di tengah jalan.
Untuk mencapai sekolahnya, Marciano harus berjalan kaki dan menyeberangi sungai (kali). Saat menyeberang itulah, arang hitam di kakinya luntur total tersapu air sungai. Karena takut melanggar aturan sekolah tanpa kaos kaki, Marciano akhirnya memilih balik kanan dan terpaksa absen sekolah pada hari itu.
Kisah Marciano ini menjadi tamparan keras sekaligus potret nyata mengenai perjuangan berat anak-anak di pelosok Indonesia dalam mengakses pendidikan di tengah keterbatasan fasilitas dan ekonomi.