Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, mengeluarkan peringatan keras terkait eskalasi ancaman kejahatan siber (cyber crime) yang kini mengintai Indonesia. Dudung menegaskan, selain memberikan efisiensi digital, lompatan teknologi saat ini menyimpan sisi gelap yang mengancam stabilitas keamanan nasional.
Hari ini, target operasi para peretas (hacker) tidak lagi sekadar menyasar rekening individu, melainkan sudah meluas ke institusi pemerintahan, objek vital ekonomi, infrastruktur pelayanan publik, hingga kedaulatan negara.
Mode serangannya pun bervariasi dan makin destruktif:
-
Pencurian data pribadi masif dan penipuan daring (online).
-
Semburan hoaks, provokasi digital, dan peretasan sistem kritikal.
-
Penyebaran propaganda radikalisme via media sosial.
Data Horor BSSN: Serangan Siber Melonjak 7 Kali Lipat
Dudung memaparkan data statistik mencengangkan dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang menunjukkan bahwa ruang siber Indonesia tengah dihujani serangan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sepanjang tahun 2025, Indonesia dihantam 5,5 miliar serangan siber. Angka ini melonjak tajam hingga 714 persen (tujuh kali lipat) dibanding rata-rata tahunan periode 2020–2024.
Badai siber belum mereda pada awal 2026. Terhitung sejak 1 Januari hingga 15 April 2026, BSSN sudah mendeteksi 1,52 miliar serangan siber yang masuk ke perimeter pertahanan digital Indonesia.
KSP Dorong Sinergi Total: Pemerintah Tak Bisa Berjuang Sendiri
Menyikapi situasi darurat ini, Kantor Staf Presiden (KSP) menegaskan komitmennya untuk memperkuat benteng pertahanan siber nasional melalui koordinasi taktis lintas sektor agar penanganan ancaman bisa dieksekusi secara cepat, terukur, dan terpadu.
Namun, mantan Kasad ini menggarisbawahi bahwa pertahanan siber terbaik dimulai dari kesadaran masyarakatnya sendiri.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Peran masyarakat sangat krusial. Kita harus lebih bijak bermedia sosial, menjaga ketat kerahasiaan data pribadi, serta menaikkan kelas literasi digital agar tidak mudah terjebak tipuan maupun provokasi palsu,” ujar Dudung.
Di akhir pernyataannya, Dudung mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyatukan barisan demi menjaga ruang digital Indonesia tetap aman, sehat, dan produktif. “Mari kita jadikan teknologi sebagai alat pemersatu dan kemajuan bangsa, bukan menjadi celah bagi kejahatan dan perpecahan. Bersama kita lawan kejahatan siber. Bersama kita jaga Indonesia!” pungkasnya.