Pasar modal Indonesia dihantam badai besar pada perdagangan hari kedua Juni. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sangat dalam hingga ambruk 4,11% atau terpangkas 254 poin ke level 5.941,06 pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026).
Sepanjang hari, indeks tidak berkutik dan terus menderita di zona merah. IHSG bahkan sempat menyentuh level terendahnya di angka 5.841, setelah tertekan hebat oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta akumulasi sentimen negatif dari dalam negeri dan global.
Sektor Komoditas Babak Belur, 692 Saham Berguguran
Kejatuhan hari ini tergolong masif karena seluruh sektor saham kompak rontok tanpa sisa. Sektor barang baku (basic materials) menjadi korban paling tragis, disusul oleh sektor energi dan infrastruktur.
Berikut rapor merah penurunan sektor-sektor utama di BEI:
-
Sektor Barang Baku: Anjlok 9,05% (Penurunan terdalam)
-
Sektor Energi: Merosot 5,61%
-
Sektor Infrastruktur: Turun 5,05%
-
Sektor Kesehatan & Transportasi: Melorot di atas 4%
Kepanikan pasar tercermin dari peta pergerakan saham: sebanyak 692 saham tumbang menjadi beban indeks, dan hanya 69 saham yang berhasil menguat, sementara 54 saham lainnya jalan di tempat. Total transaksi hari ini membengkak hingga Rp24,99 triliun dengan volume perdagangan mencapai 39,66 miliar saham.
Barisan Top Losers & Top Gainers di Indeks LQ45
Saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) berbasis tambang menjadi samsat jualan investor asing dan domestik pada hari ini.
Top Losers (LQ45):
-
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Amblas 14,91% ke posisi Rp3.310/saham.
-
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Terperosok 12,12% ke posisi Rp2.320/saham.
-
PT Darma Henwa Tbk (DEWA): Longsor 11,98% ke posisi Rp294/saham.
Top Gainers (LQ45):
Di tengah tsunami merah, hanya ada dua saham di indeks elite ini yang mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan sangat tipis:
-
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI): Naik 0,67% ke Rp1.495/saham.
-
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG): Menguat tipis 0,34% ke Rp22.075/saham.
Pelemahan nilai tukar rupiah dan menyusutnya surplus neraca perdagangan disinyalir menjadi pemicu utama investor memilih bermain aman dan melakukan aksi jual massal (panic selling).