JAKARTA – Markas Besar Militer Pusat Khatam al-Anbiya di Iran mengumumkan penangguhan operasi militer terhadap Israel pada Senin (8/6/2026), setelah menyebt telah memberikan “balasan yang menyakitkan” atas serangan Israel di Lebanon selatan dan distrik Dahiyeh, Beirut.
Iran menegaskan penangguhan ini bersifat sementara dan memperingatkan bahwa setiap agresi lebih lanjut akan ditanggapi dengan “tidankan jauh lebih keras dan menghancurkan.”
Pengumuman itu muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan kedua pihak segera menghentikan penembakan. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis: “Israel dan Iran harus segera menghentikan ‘penembakan’.” Ia menambahkan bahwa negosiasi menuju perdamaian sedang berlangsung, meski masih terhambat.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan prioritas pemerintah adalah keamanan nasional dan perdamaian rakyat. “Diplomasi dan pertahanan adalah dua sayap kekuatan nasional; kami tidak meninggalkan medan pertempuran maupun meja perundingan,” ujarnya, dilansir .
Penangguhan diumumkan setelah Iran menembakkan hampir 30 rudal balistik ke Israel sejak Minggu malam, sementara IRGC sebelumnya berjanji melakukan serangan beruntun selama sepekan penuh dalam Operasi Nasr. Israel merespons dengan gelombang serangan udara yang menargetkan sistem pertahanan dan kompleks petrokimia di Iran.
Situasi ini menandai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata 8 April, dengan ketegangan regional kembali meningkat. Israel belum memberikan tanggapan resmi atas pengumuman Iran.