JAKARTA β Pemerintah membuka peluang harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, termasuk Pertamax, kembali mengalami penurunan apabila tren harga minyak mentah dunia bergerak melemah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa mekanisme penentuan harga BBM non-subsidi sepenuhnya mengikuti perkembangan pasar dan pergerakan harga minyak global.
Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Menteri ESDM, Dwi Anggia, di tengah perhatian publik terhadap penyesuaian harga BBM non-subsidi yang belakangan mengikuti dinamika pasar energi internasional.
Menurut Dwi, peluang penurunan harga Pertamax dan produk BBM non-subsidi lainnya tetap terbuka lebar selama harga minyak dunia menunjukkan tren penurunan. Sebaliknya, apabila harga minyak kembali meningkat, maka penyesuaian harga menjadi konsekuensi yang sulit dihindari karena harus mengikuti nilai keekonomian.
βApakah Pertamax bisa turun lagi? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun. Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau, tidak terhindarkan harga BBM non-subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya,β ujar Dwi Anggia di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Rabu (17/6/2026).
Harga BBM Non-Subsidi Mengikuti Formula Pasar
Dwi menjelaskan bahwa mekanisme penetapan harga BBM non-subsidi telah diatur secara jelas dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG/01/MEM.M/2022 tentang formula harga dasar perhitungan harga jual eceran BBM.
Regulasi tersebut menjadi landasan bagi badan usaha penyedia BBM dalam menentukan harga jual produk non-subsidi, termasuk Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
Dengan skema tersebut, perubahan harga tidak ditentukan secara sepihak, melainkan berdasarkan sejumlah komponen ekonomi, termasuk harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, serta faktor operasional lainnya.
Kondisi ini membuat harga BBM non-subsidi lebih responsif terhadap gejolak pasar energi global dibandingkan BBM subsidi yang masih mendapat intervensi pemerintah.
Harga Minyak Dunia Masih Bergerak Naik
Sinyal penyesuaian harga BBM muncul di tengah tren harga minyak dunia yang masih bergerak di level tinggi. Berdasarkan data Refinitiv pada Rabu (17/6/2026) pukul 08.20 WIB, minyak mentah jenis Brent diperdagangkan di level US$79,23 per barel, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di US$78,96 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat berada di level US$76,27 per barel, meningkat dari posisi sehari sebelumnya sebesar US$76,05 per barel.
Kenaikan harga minyak global tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan biaya pengadaan BBM dan berdampak langsung terhadap perhitungan harga jual produk non-subsidi di dalam negeri.
Para pelaku industri energi menilai volatilitas harga minyak saat ini masih dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari dinamika geopolitik, kebijakan produksi negara-negara penghasil minyak, hingga proyeksi permintaan energi dunia.
Indonesia Sempat Tahan Kenaikan Harga
Di sisi lain, Dwi mengungkapkan bahwa pemerintah sebenarnya telah menahan penyesuaian harga BBM non-subsidi selama beberapa bulan terakhir meskipun tekanan harga minyak dunia terus meningkat.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mempertahankan daya beli masyarakat sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, pemerintah sempat melakukan komunikasi intensif dengan badan usaha BBM milik negara maupun swasta agar harga Pertamax dan produk non-subsidi lainnya tidak langsung mengikuti kenaikan harga minyak dunia.
βKita tahu pada April lalu, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah masih berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Karena itu sempat ada diskusi dengan badan usaha, baik BUMN maupun swasta, untuk mempertahankan harga BBM non-subsidi, dalam hal ini Pertamax,β kata Dwi.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi salah satu bentuk mitigasi pemerintah untuk meredam dampak lonjakan harga energi terhadap aktivitas ekonomi domestik.
Negara Tetangga Sudah Lebih Dulu Naikkan Harga BBM
Dwi juga menyoroti bahwa sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara telah lebih dahulu melakukan penyesuaian harga BBM mengikuti kenaikan biaya energi global.
Menurutnya, Indonesia termasuk negara yang relatif lebih lama menahan kenaikan harga BBM non-subsidi dibandingkan beberapa negara tetangga.
βKalau bicara negara-negara tetangga di kawasan, mereka sudah jauh lebih dulu melakukan penyesuaian harga,β ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya energi tidak hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga negara-negara lain yang terdampak fluktuasi harga minyak dunia.
Pertalite dan Solar Subsidi Dipastikan Tetap
Meski harga BBM non-subsidi mengikuti mekanisme pasar, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi masih tetap dipertahankan.
Dwi menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada perubahan harga untuk Pertalite maupun Solar subsidi. Kebijakan tersebut diambil untuk melindungi masyarakat rentan sekaligus menjaga stabilitas sosial dan ekonomi nasional.
Dengan tetap dipertahankannya harga BBM subsidi, pemerintah berharap aktivitas masyarakat serta sektor-sektor produktif yang bergantung pada energi dapat terus berjalan tanpa tekanan biaya yang berlebihan.
Ke depan, arah harga Pertamax dan BBM non-subsidi lainnya akan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak mentah dunia. Jika tren pelemahan harga minyak terjadi dalam beberapa waktu mendatang, masyarakat berpeluang kembali menikmati penurunan harga BBM non-subsidi di SPBU.