Peta politik Britania Raya mendadak diguncang prahara besar. Perdana Menteri Inggris sekaligus Pemimpin Partai Buruh (Labour), Keir Starmer, resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin pagi waktu setempat. Keputusan mengejutkan ini sekaligus mengakhiri gejolak politik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di negara tersebut.
Pengunduran diri ini terbilang ironis. Sebab, belum genap dua tahun lalu, Starmer berhasil membawa Partai Buruh meraih salah satu kemenangan mayoritas parlemen terbesar dalam sejarah Pemilu Inggris 2024.
Dalam pidato emosionalnya di depan kantor 10 Downing Street sekitar pukul 09.30 pagi waktu London, Starmer menyatakan akan tetap mengawal pemerintahan sebagai penjabat sementara hingga suksesi kepemimpinan yang baru selesai dilaksanakan.
Rentetan Skandal dan Pemberontakan Internal
Langkah mundur yang diambil Starmer merupakan puncak dari tekanan masif yang bertubi-tubi menghantam dirinya. Setidaknya ada beberapa faktor utama yang membuat posisinya terjepit:
-
Kekalahan Pemilu Lokal: Partai Buruh menderita kekalahan telak dalam pemilu lokal pada bulan Mei lalu.
-
Pemberontakan Anggota Parlemen: Terjadi penolakan vokal dari dalam tubuh partainya sendiri terkait gaya kepemimpinan dan agenda kebijakan yang ia usung.
-
Kebijakan Fiskal Kontroversial: Starmer dan Menteri Keuangan Rachel Reeves terus-menerus dihantam ketidakpuasan internal mengenai kebijakan anggaran.
-
Skandal Penunjukan Duta Besar: Hubungan internal partai kian retak setelah ia menunjuk Peter Mandelson—tokoh yang dikaitkan dengan mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein—sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat.
Berdasarkan jajak pendapat Ipsos terbaru yang dirilis hari Jumat, sebanyak 52% publik Inggris memang menginginkan Starmer mundur dari jabatannya.
Respons Pasar dan Munculnya Kandidat Pengganti
Kabar mundurnya sang Perdana Menteri langsung direspons oleh pasar keuangan dunia. Mata uang Poundsterling terpantau melemah 0,19% terhadap Dolar AS dan diperdagangkan di level $1,3207. Sementara itu, imbal hasil obligasi 10 tahun pemerintah Inggris (Gilts) bergerak flat di angka 4,8452% setelah sempat melonjak tajam pada akhir pekan lalu.
Di tengah kekosongan kursi kepemimpinan ini, nama mantan Wali Kota Greater Manchester, Andy Burnham, mencuat sebagai kandidat kuat pengganti Starmer. Burnham baru saja meraih kemenangan mutlak dalam pemilu khusus pada 18 Juni kemarin, yang secara otomatis menempatkannya sebagai penantang utama untuk kursi pemimpin Partai Buruh sekaligus Perdana Menteri Inggris berikutnya.
Kini, para pelaku pasar dan investor global mulai menyoroti dan bersiap menghitung arah kebijakan ekonomi baru yang akan dibawa di bawah potensi kepemimpinan Burnham mendatang.