JAKARTA – Dua gempa kuat bermagnitido 7,2 dan 75 mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) malam waktu setempat, menewaskan sedikitnya 32 orang dan melukai lebih dari 700 orang.
Gempa pertama berkedalaman 13 kilometer berlangsung 39 detik sebelum gempa kedua terjadi. Menutur USGS, gempa awal itu merupakan foreshock, sementara gempa kedua berkedalaman 10 kilometer dikategorikan sebagai mainshock dalam rangkaian gempa kembar (seismic doublet).
Pemerintah Venezuela menetapkan keadaan darurat. Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, didampingi Jorge Rodriguez dan Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello, menyampaikan belasungkawa serta menegaskan bahwa upaya penyelamatan menjadi prioritas. Aktivitas sekolah dihentikan, layanan kereta api ditangguhkan, dan Bandara Simon Bolivar di Maiquetia ditutup akibat kerusakan. Cabello menyebut situasi “sangat mengkhawatirkan” dan mengimbau warga tetap berada di luar ruangan karena ancaman gempa susulan.
USGS memperkirakan korban jiwa bisa mencapai 1.000 hingga 10.000 orang, dengan kerugian ekonomi setara 1–4 persen dari PDB Venezuela.
Gempa Venezuela: WNI Dipastikan Aman
Kementerian Luar Negeri RI memastikan kondisi WNI di Venezuela aman. “Pemerintah Indonesia melalui KBRI Caracas telah memastikan bahwa seluruh WNI yang terdata berada di Venezuela, yakni sebanyak 3 orang, dalam kondisi aman, selamat, dan sehat,” kata juru bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang. Ia menambahkan KBRI membuka jalur komunikasi darurat dan terus memantau informasi resmi pemerintah Venezuela. WNI dapat menghubungi hotline KBRI Caracas di +58 4120217263 / +58 4122340100.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapan membantu Venezuela. “AS siap, bersedia, dan mampu membantu! Saya telah menginstruksikan semua lembaga pemerintah untuk bersiap bergerak cepat,” tulis Trump di Truth Social. Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau dan Jeremy Lewin menegaskan Washington sedang memobilisasi bantuan, termasuk tim pencarian dan penyelamatan serta suplai medis.


