Kawasan wisata Gunung Bromo kini resmi memiliki magnet baru yang siap menguji nyali para pelancong. Tahapan krusial berupa uji coba atau pre-launching Jembatan Kaca Seruni Point sukses digelar di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/6/2026).
Destinasi wisata ekstrem yang diberi nama resmi Bromo Skybreak ini digadang-gadang menjadi opsi penyangga utama bagi wisatawan yang ingin menikmati kemegahan Bromo dari sudut pandang yang berbeda.
Dalam agenda peresmian awal tersebut, jajaran pejabat dari Balai Besar TNBTS, Dinas Pariwisata Probolinggo, Forkopimka, hingga perwakilan masyarakat adat Tengger Bromo berkesempatan langsung menjajal sensasi berjalan di atas lantai kaca transparan sepanjang 130 meter.
Rahasia Ketangguhan Konstruksi Bromo Skybreak
Sebagai salah satu pionir jembatan kaca di Indonesia, aspek keselamatan pengunjung menjadi fondasi utama. Spesifikasi teknis jembatan ini dirancang menggunakan standar keamanan tingkat tinggi:
-
Material Premium: Menggunakan kombinasi tempered glass dengan lapisan khusus interlayer SentryGlass Plus (SGP) seberat 180 kg per panel.
-
Ketebalan Ekstrem: Terdiri atas dua lapis kaca masing-masing 12 mm yang menjepit lapisan SGP 1,52 mm, menciptakan ketebalan total panel hingga 25,52 mm.
-
Kapasitas Beban: Secara matematis mampu menahan beban seberat 6 ton atau setara 60 orang sekaligus di atas jembatan.
Aturan Operasional: Demi menjaga kenyamanan dan faktor psikologis pengunjung, manajemen akan membatasi kapasitas maksimal hanya 40 orang dalam satu waktu dengan sistem antrean keluar-masuk secara bergantian.
Harga Tiket Ramah Kantong Wisatawan Lokal
Meskipun menyajikan infrastruktur megah dan pemandangan premium, manajemen memastikan tarif masuk tidak akan mencekik kantong para pelancong domestik. Harga Tiket Sementara adalah Rp55.000 per orang. Tarif ini jauh lebih ekonomis dibandingkan wahana serupa di Bali yang mencapai Rp150 ribu, ataupun destinasi asli di luar negeri.
Siti Sunarti, seorang wisatawan asal Bojonegoro yang datang memboyong keluarganya di momen libur sekolah, mengaku sempat gemetar saat pertama kali menginjakkan kaki di atas kaca jembatan.
“Awalnya memacu adrenalin dan sempat takut melihat jurang langsung di bawah kaki. Tapi setelah ditenangkan oleh petugas, saya memberanikan diri. Begitu sampai di tengah, pemandangan Gunung Bromo, Gunung Batok, dan perbukitan Tengger terlihat sangat magis dan luar biasa indah,” aku Siti penuh kagum.