JAKARTA – Beragam permainan tradisional Betawi akan kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui pameran temporer bertajuk ‘MAEN!’ di Museum Betawi, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya menghadirkan kembali permainan masa lalu sekaligus mengenalkan nilai budaya Betawi kepada generasi muda.
Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui akun Instagram Jagakarsa Info, pameran ‘MAEN!’ dijadwalkan berlangsung mulai 14 Agustus hingga 31 Desember 2026.
Pembukaan pameran akan digelar pada 14 Agustus 2026 pukul 08.00 WIB di Museum Betawi, UPK PBB Setu Babakan, Jalan Moh. Kahfi 2, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Mengusung semangat “Saban Maen Bikin Girang, Hiburan Jadul Nyang Kagak Ilang”, pameran tersebut mengangkat permainan tradisional yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Betawi.
Beberapa permainan yang disebut dalam materi promosi antara lain congklak, gasing, layangan, hingga engrang.
Kehadiran permainan-permainan tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman bernostalgia bagi masyarakat yang pernah memainkannya.
Bagi generasi muda, pameran ini dapat menjadi kesempatan untuk mengenal bentuk hiburan tradisional yang berkembang sebelum permainan digital dan teknologi menjadi bagian besar dari kehidupan sehari-hari.
Permainan tradisional juga memiliki nilai sosial yang tidak kalah penting. Aktivitas bermain biasanya dilakukan secara bersama-sama sehingga menciptakan interaksi antarpemain.
Dari kegiatan sederhana tersebut, anak-anak dapat belajar mengenai kerja sama, kekompakan, sportivitas, serta kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Upaya mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak dan generasi muda juga sejalan dengan berbagai kegiatan pelestarian budaya Betawi yang dilakukan di Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya menempatkan pelestarian budaya Betawi sebagai bagian dari upaya menjaga identitas Jakarta.
Dalam sejumlah kegiatan kebudayaan, permainan tradisional Betawi juga digunakan sebagai media untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat sejak usia dini.
Setu Babakan sendiri memiliki posisi penting dalam pelestarian budaya Betawi.
Kawasan ini menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengenal berbagai unsur kebudayaan Betawi, mulai dari tradisi, kuliner, kesenian hingga kehidupan masyarakatnya.
Pemprov DKI Jakarta juga terus mendorong pengembangan kawasan Setu Babakan sebagai bagian dari upaya menjaga keberadaan budaya Betawi di tengah perkembangan Jakarta.
Pameran ‘MAEN!’ kemudian hadir dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian masyarakat, yakni permainan.
Cara tersebut membuat pengenalan budaya tidak hanya berlangsung melalui penjelasan sejarah, tetapi juga melalui sesuatu yang akrab dan menyenangkan.
Bagi generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi, permainan tradisional dapat menjadi pengalaman baru.
Congklak, misalnya, dimainkan menggunakan papan dan biji permainan, sementara gasing mengandalkan keterampilan memutar benda hingga tetap berputar.
Layangan juga memperkenalkan aktivitas bermain di ruang terbuka yang membutuhkan ketelitian dan keterampilan.
Melalui pameran ini, permainan tradisional tidak sekadar ditempatkan sebagai bagian dari masa lalu.
Lebih jauh, keberadaannya dapat menjadi pengingat bahwa budaya lokal memiliki berbagai bentuk hiburan yang lahir dari kreativitas masyarakat.
Pameran ‘MAEN!’ juga dapat menjadi ruang edukasi bagi keluarga. Orang tua yang memiliki pengalaman memainkan permainan tradisional dapat berbagi cerita kepada anak-anak mengenai permainan yang pernah populer pada masa mereka.
Interaksi tersebut sekaligus dapat menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan sejarah budaya Betawi antargenerasi.
Dengan berlangsung hingga akhir Desember 2026, masyarakat memiliki kesempatan cukup panjang untuk mengunjungi pameran tersebut.
Kehadirannya di Museum Betawi, Setu Babakan, diharapkan dapat memperkuat ketertarikan masyarakat terhadap permainan tradisional sekaligus menjaga agar warisan budaya Betawi tetap dikenal di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, ‘MAEN!’ bukan hanya tentang mengingat permainan masa lalu. Pameran ini menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana aktivitas sederhana seperti bermain dapat menyimpan nilai kebersamaan, kreativitas, dan identitas budaya.
Dengan mengenalkannya kepada generasi baru, permainan tradisional Betawi memiliki peluang untuk terus hidup dan tidak sekadar menjadi kenangan.***



