JAKARTA – Musim kemarau sering kali identik dengan cuaca panas, berkurangnya intensitas hujan, serta kondisi lingkungan yang lebih kering dibandingkan biasanya.
Di tengah kondisi tersebut, masih banyak masyarakat yang memilih membakar sampah sebagai cara cepat untuk mengurangi tumpukan limbah rumah tangga.
Kebiasaan ini dianggap praktis karena tidak memerlukan biaya tambahan dan dapat dilakukan secara langsung di halaman rumah atau lahan kosong.
Namun, di balik kemudahannya, membakar sampah menyimpan berbagai risiko yang dapat berdampak pada kesehatan, lingkungan, hingga keselamatan masyarakat.
Di berbagai daerah di Indonesia, praktik pembakaran sampah masih cukup sering ditemukan, terutama untuk menghilangkan sampah daun, ranting, plastik, hingga sampah rumah tangga lainnya.
Padahal, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan masalah yang lebih besar dibanding manfaat yang dirasakan sesaat. Salah satu risiko yang meningkat pada musim kemarau adalah potensi terjadinya kebakaran.
Kondisi cuaca panas menyebabkan rumput, dedaunan kering, dan lahan kosong menjadi lebih mudah terbakar.
Api kecil yang berasal dari pembakaran sampah dapat menyebar dengan cepat, terlebih apabila disertai hembusan angin.
Situasi tersebut dapat memicu kebakaran pada lahan, semak belukar, bahkan menjalar ke permukiman warga apabila tidak segera dikendalikan.
Selain risiko kebakaran, dampak yang paling langsung dirasakan adalah menurunnya kualitas udara. Asap hasil pembakaran sampah mengandung berbagai zat yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengungkapkan bahwa pembakaran sampah, terutama sampah plastik, dapat menghasilkan senyawa berbahaya seperti dioksin yang berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Asap dari pembakaran sampah bukan sekadar asap biasa. Banyak masyarakat yang menganggap asap akan hilang begitu saja setelah api padam.
Padahal, partikel hasil pembakaran dapat tersebar ke udara dan terhirup oleh masyarakat sekitar.
Paparan asap secara terus-menerus dapat menimbulkan gangguan seperti batuk, iritasi mata, sesak napas, hingga gangguan saluran pernapasan.
Data yang disampaikan Kementerian Kesehatan melalui pemberitaan nasional menyebutkan bahwa paparan polusi udara, baik di dalam maupun luar ruangan, dapat memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat pada berbagai kelompok usia.
Gangguan pernapasan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu dampak yang sering dikaitkan dengan kualitas udara yang buruk.
Permasalahan semakin besar apabila sampah yang dibakar mengandung plastik, karet, atau bahan sintetis lainnya. Banyak masyarakat yang masih mencampur sampah organik dan anorganik sebelum dibakar.
Padahal, bahan-bahan tersebut dapat menghasilkan zat berbahaya ketika terkena panas tinggi. Asap yang muncul bukan hanya mengganggu lingkungan sekitar, tetapi juga berpotensi membawa dampak jangka panjang terhadap kesehatan.
Praktik pembakaran sampah juga diketahui menjadi salah satu penyumbang pencemaran udara. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebelumnya mengungkapkan bahwa pembakaran terbuka, termasuk pembakaran sampah, ikut berkontribusi terhadap menurunnya kualitas udara.
Tidak hanya itu, aktivitas membakar sampah dapat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.
Asap yang mengepul sering kali masuk ke rumah-rumah warga, menempel pada pakaian yang dijemur, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pada beberapa kondisi, asap juga dapat mengurangi jarak pandang pengguna jalan sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Persoalan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia.
Beberapa masyarakat memilih membakar sampah karena minimnya akses pengangkutan atau fasilitas pengolahan sampah.
Namun di sisi lain, rendahnya kesadaran terhadap dampak pembakaran sampah juga menjadi faktor yang membuat kebiasaan tersebut masih terus dilakukan.
Sebagai alternatif, masyarakat dapat mulai menerapkan pengelolaan sampah yang lebih aman, seperti memilah sampah organik dan anorganik.
Sampah organik seperti daun dan sisa makanan dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat dipisahkan untuk didaur ulang atau disalurkan ke tempat pengolahan yang tersedia.
Musim kemarau seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bahaya lingkungan.
Membakar sampah memang terlihat sebagai solusi cepat, tetapi dampak yang ditimbulkan dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Kesadaran bersama untuk mengurangi kebiasaan membakar sampah menjadi langkah penting demi menjaga kesehatan masyarakat dan lingkungan tetap bersih. (FB)