JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak seluruh perguruan tinggi di Indonesia mempercepat lahirnya inovasi pertanian yang tidak hanya unggul di tingkat penelitian, tetapi juga dapat langsung dimanfaatkan oleh petani untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Ajakan tersebut disampaikan Amran setelah menghadiri Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2026 yang digelar di Jakarta dan diikuti lebih dari 2.600 peserta dari kalangan akademisi, ilmuwan, peneliti, dosen, hingga pimpinan perguruan tinggi dari berbagai daerah.
Menurut Amran, Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu negara dengan kekuatan pangan terbesar di dunia apabila hasil penelitian yang dihasilkan kampus mampu diterapkan secara nyata di lapangan melalui sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan para pelaku pertanian.
Kolaborasi Kementan dan Perguruan Tinggi Terus Diperkuat
Mentan memastikan kerja sama antara Kementerian Pertanian dengan berbagai perguruan tinggi akan terus diperluas guna mempercepat proses hilirisasi hasil riset yang selama ini telah menghasilkan beragam inovasi strategis.
“Insya Allah, kita akan berkolaborasi ke depan. Kita akan tingkatkan kolaborasi yang selama ini sudah dibangun,” ungkap Mentan.
Ia menegaskan bahwa berbagai hasil penelitian yang telah dikembangkan kampus tidak boleh berhenti sebagai publikasi ilmiah ataupun sebatas uji laboratorium.
Menurutnya, inovasi baru harus diterapkan secara luas sehingga mampu meningkatkan hasil produksi pertanian sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani di seluruh Indonesia.
Riset Kampus Dinilai Mampu Melonjakkan Produktivitas Pertanian
Amran mengungkapkan sejumlah hasil penelitian perguruan tinggi telah menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian nasional.
Salah satu contohnya berasal dari riset Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berhasil menghasilkan produktivitas padi hingga mencapai 13,9 ton per hektare.
Capaian tersebut jauh melampaui rata-rata produktivitas padi nasional yang saat ini masih berada di kisaran 5,5 ton per hektare.
Di sektor peternakan, Universitas Gadjah Mada (UGM) juga dinilai berhasil mengembangkan inovasi yang mampu menghasilkan sapi dengan bobot mencapai satu ton.
Selain itu, berbagai perguruan tinggi juga terus mengembangkan teknologi di bidang benih unggul, alat dan mesin pertanian (alsintan), teknologi pascapanen, hingga inovasi untuk meningkatkan efisiensi produksi pertanian.
“Kami dengan IPB mengembangkan benih unggul. Semua inovasi kampus harus kita hilirkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani,” lanjut Mentan.
Pengembangan Teknologi Pertanian Makin Beragam
Kementerian Pertanian saat ini telah menjalin kemitraan dengan banyak perguruan tinggi dalam pengembangan berbagai teknologi yang mendukung modernisasi sektor pertanian.
Kerja sama tersebut meliputi pengembangan varietas benih unggul, traktor pertanian, alat panjat kelapa, teknologi peternakan ayam, budidaya jagung, pengembangan gambir, ubi, hingga inovasi mesin pengering hasil panen.
Berbagai inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat daya saing sektor pertanian Indonesia.
Inovasi Menjadi Fondasi Menuju Superpower Pangan
Amran menilai kemampuan Indonesia menjadi negara dengan kekuatan pangan global sangat bergantung pada keberhasilan melahirkan inovasi yang berkelanjutan dari lingkungan perguruan tinggi.
Ia menyebut riset menjadi fondasi penting dalam menciptakan teknologi baru yang mampu menjawab berbagai tantangan sektor pertanian di masa depan.
“Kalau kita mau menjadi superpower, tumpuannya adalah inovasi baru dari kampus. Ini luar biasa dan harus terus kita dorong,” ungkap Amran.
Kemendiktisaintek Siap Hilirkan Hasil Penelitian
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan dukungannya terhadap penguatan kolaborasi bersama Kementerian Pertanian.
Pihaknya akan melakukan inventarisasi terhadap berbagai hasil penelitian perguruan tinggi yang telah siap diterapkan agar dapat segera dimanfaatkan dalam pembangunan sektor pertanian nasional.
Langkah tersebut menjadi tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sarasehan KSTI 2026 yang mendorong seluruh hasil riset perguruan tinggi agar dihilirkan menjadi teknologi yang mampu memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan Indonesia.***