Kenyataan pahit harus dihadapi oleh talenta digital dalam negeri. Raksasa teknologi ByteDance, induk usaha TikTok, kembali meluncurkan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang menguras habis divisi teknologi di Tokopedia. Tidak hanya sekadar efisiensi, TikTok kini resmi mengalihkan hampir seluruh operasional dan kendali rekayasa teknologi (e-commerce) tersebut langsung ke markas besarnya di China.
Perubahan struktur ini menyisakan angka yang sangat kontras. Sebelum dicaplok oleh TikTok, divisi teknologi Tokopedia diperkuat oleh sekitar 1.100 karyawan. Namun, setelah gelombang PHK terakhir merumahkan lebih dari 450 staf teknologi, kini lini vital tersebut hanya menyisakan 35 orang saja di Indonesia.
Janji Co-Exist yang Berakhir di China
Eksodus operasional ini memicu kekecewaan mendalam bagi industri digital lokal. Ketika ByteDance pertama kali mengambil alih saham mayoritas Tokopedia dari GoTo pada Januari 2024 silam, komitmen awal yang digaungkan adalah bertumbuh bersama talenta lokal.
Merespons kabar ini, Juru Bicara TikTok mengonfirmasi adanya langkah penyelarasan organisasi. Pihak manajemen berdalih bahwa restrukturisasi ini dilakukan untuk mengonsolidasikan fungsi Riset dan Pengembangan (R&D) demi efisiensi jangka panjang bisnis perusahaan.
Peta Persaingan: Tokopedia Buncit, TikTok Shop Melejit
Langkah agresif ByteDance ini berjalan beriringan dengan dinamika pasar e-commerce Asia Tenggara yang bergerak sangat liar. Berdasarkan laporan terbaru Ecommerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works, performa Tokopedia secara mandiri justru merosot ke posisi paling buncit di antara pemain besar pada tahun 2025:
| Platform | Nilai Transaksi (GMV 2025) | Status |
| Shopee | US$ 83,2 Miliar | Pemimpin Pasar |
| TikTok Shop | US$ 45,6 Miliar | Bintang Baru (Tumbuh 2x lipat) |
| Lazada | US$ 18 Miliar | Posisi Tiga |
| Tokopedia | US$ 9 Miliar | Posisi Terbawah |
Meski performa organik Tokopedia melambat, kombinasi taktis antara TikTok Shop dan Tokopedia berhasil mengamankan posisi yang kuat. Jika total GMV keduanya digabungkan, kekuatan e-commerce di bawah naungan ByteDance ini kini telah sukses menyamai 65,7% dari total kekuatan Shopee di Asia Tenggara.
Sisi Finansial bagi GoTo
Meskipun kepemilikan sahamnya telah terdilusi menjadi 24,99%, induk awal Tokopedia, GoTo, setidaknya masih mendapatkan dampak instan dari perjanjian ini. GoTo tidak lagi menanggung beban operasional harian Tokopedia, melainkan berhak menerima arus kas pasif dalam bentuk imbalan jasa e-commerce yang dibayarkan setiap kuartal.
Pada tahun 2025 saja, nilai imbalan jasa yang kantongi GoTo sukses menembus angka Rp820 miliar, alias melonjak 32% dibandingkan perolehan tahun 2024 yang bernilai Rp622 miIiar.