JAKARTA – Seorang bayi Palestina berusia empat bulan meninggal dunia di Tepi Barat setelah pos pemeriksaan militer Israel di dekat Ramallah menghalangi akses ke perawatan darurat.
Gubernur Ramallah dan el-Bireh, Laila Ghannam, menyebut penundaan lebih dari satu jam itu sebagai “noda pada hati nurani kemanusiaan” dan bagian dari kebijakan yang membatasi kebebasan bergerak warga Palestina, dilansir Aljazeera, Senin (6/7/2026).
Ghannam mengatakan pasukan Israel menembakkan gas air mata untuk membubarkan warga yang berusaha melewati pos pemeriksaan di pintu masuk Desa Deir Ammar. Ahmad Marouf Zeid, putra satu-satunya keluarga tersebut, akhirnya dinyatakan meninggal di Rumah Sakit Spesialis Arab.
Di lokasi lain, pasukan Israel menembak mati seorang remaja Palestina berusia 16 tahun di kamp pengungsi Qalandiya, sementara dua anak berusia 14 tahun terluka. Kementerian Kesehatan Palestina mencatat lebih dari 1.087 warga Palestina tewas di Tepi Barat sejak Oktober 2023, seiring meningkatnya kekerasan setelah perang di Gaza.
Sementara itu, di Gaza, sebuah drone Israel menyerang kerumunan warga di Jalan Omar al-Mukhtar, menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai beberapa lainnya. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut pelanggaran gencatan senjata oleh Israel telah menewaskan 1.066 orang dan melukai 3.445 sejak Oktober.
Total korban tewas akibat perang di Gaza sejak Oktober 2023 kini mencapai 73.090 orang, dengan 173.550 lainnya terluka, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza.