JAKARTA – Paus Leo XIV memanfaatkan peringatan 250 tahun Hari Kemerdekaan Amerika Serikat untuk menyampaikan seruan agar para imigran diterima dengan martabat dan dilindungi.
Pesan tersebut disampaikan bertepatan dengan kunjungan pastoralnya ke Pulau Lampedusa, Italia, yang menjadi salah satu pintu masuk utama para migran menuju Eropa.
Momentum itu mempertegas komitmen Paus Leo XIV menjadikan isu kemanusiaan dan perlindungan migran sebagai salah satu fokus utama kepemimpinannya di Vatikan.
Dalam surat yang ditujukan kepada masyarakat Amerika Serikat, Paus mengingatkan bahwa penghormatan terhadap kehidupan manusia tidak berhenti pada perlindungan warga negara.
Menurutnya, nilai kehidupan juga diwujudkan melalui sikap menerima, melindungi, serta membantu para imigran yang meninggalkan negaranya akibat perang, kemiskinan, maupun penganiayaan.
Ia menilai sambutan yang penuh belas kasih merupakan bentuk pengakuan terhadap martabat setiap manusia tanpa memandang asal usul maupun status kewarganegaraan.
“Menerima para imigran dengan belas kasih dan kemurahan hati bukan hanya tindakan amal, tetapi juga pengakuan atas martabat setiap manusia,” ungkap Paus seperti dikutip dari Reuters, Minggu (5/7/2026).
Pesan tersebut memiliki makna simbolis karena disampaikan saat Amerika merayakan sejarah panjangnya sebagai negara yang dibangun oleh berbagai gelombang imigran.
Dalam kesempatan sebelumnya, Paus juga mengajak masyarakat Amerika mempertahankan cita-cita kemerdekaan yang menjunjung kebebasan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Lampedusa Kembali Menjadi Simbol Krisis Kemanusiaan
Kunjungan Paus Leo XIV berlangsung di Lampedusa yang berada di antara Tunisia, Malta, dan Sisilia.
Pulau kecil itu selama bertahun-tahun menjadi jalur utama penyeberangan migran dari Afrika menuju Benua Eropa melalui Laut Mediterania.
Banyak pencari suaka mempertaruhkan nyawa menggunakan perahu sederhana dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih aman.
Sejak awal 2026, lebih dari 14 ribu migran telah tiba di Italia melalui jalur laut.
Lebih dari separuh jumlah tersebut mendarat di Lampedusa yang hanya dihuni sekitar enam ribu penduduk.
Sementara itu, lebih dari 1.400 orang dilaporkan meninggal dunia atau hilang saat mencoba menyeberangi Laut Mediterania sepanjang tahun ini.
Korban tersebut termasuk puluhan anak yang ikut dalam perjalanan berisiko tinggi menuju Eropa.
Mengenang Korban yang Gugur di Laut Mediterania
Setibanya di Lampedusa, Paus Leo XIV langsung berziarah ke kompleks pemakaman tempat sejumlah migran dimakamkan.
Ia meletakkan bunga sebagai penghormatan kepada mereka yang kehilangan nyawa ketika berusaha mencapai daratan Eropa.
Paus juga mengunjungi monumen “Door of Europe” yang dibangun sebagai simbol penghormatan bagi para korban migrasi.
Di lokasi itu, ia berjalan menuju bibir Laut Mediterania sebagai bentuk refleksi atas tragedi kemanusiaan yang terus berulang.
Kunjungan tersebut mengingatkan kembali perjalanan Paus Fransiskus yang menjadikan Lampedusa sebagai tujuan pertama di luar Roma setelah terpilih pada 2013.
Seruan untuk Eropa
Dalam misa bersama ribuan umat, Paus Leo XIV meminta negara-negara Eropa tidak hanya berfokus pada pengamanan perbatasan.
Ia mendorong lahirnya kebijakan migrasi yang menyeluruh mulai dari penyelamatan, perlindungan, pendampingan hingga integrasi para migran ke masyarakat.
Paus juga mengajak pemerintah Eropa membantu memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi di negara asal para migran.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar semakin sedikit orang yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya.
Dukungan bagi Warga dan Relawan Lampedusa
Paus menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Lampedusa yang selama bertahun-tahun berada di garis depan dalam menghadapi arus migrasi.
Ia mengatakan Gereja Katolik akan terus mendampingi masyarakat setempat, petugas penjaga pantai, organisasi kemanusiaan, dan para relawan.
Kehadiran Paus disambut para migran yang baru tiba, aparat penyelamat, hingga lembaga kemanusiaan internasional.
Sejumlah penyintas mengaku kunjungan tersebut memberi harapan bahwa penderitaan mereka masih mendapat perhatian dunia.
Seorang mediator budaya yang pernah menempuh perjalanan panjang melintasi Afrika dan Mediterania menyebut kunjungan Paus sebagai pengingat bahwa setiap kisah pengungsi tetap memiliki nilai kemanusiaan.
Isu Migrasi Tetap Menjadi Prioritas Vatikan
Sejak terpilih menjadi Paus pada Mei 2025, Leo XIV secara konsisten menjadikan perlindungan migran sebagai agenda penting Gereja Katolik.
Beberapa pekan sebelumnya, ia mengingatkan bahwa sejarah akan menilai para pemimpin dunia berdasarkan cara mereka memperlakukan para migran.
Kunjungan ke Lampedusa pun dipandang membawa pesan moral sekaligus politik ketika perdebatan global mengenai migrasi semakin didominasi isu keamanan perbatasan.
Pejabat Badan Pengungsi PBB menilai kehadiran Paus mengingatkan dunia bahwa perlindungan terhadap manusia harus tetap menjadi prioritas dibanding sekadar kebijakan penangkalan migrasi.***