TIMIKA – Koops TNI Habema mengungkap hasil penyelidikan awal terkait insiden yang menewaskan seorang warga sipil, Melkiana Dwitau, di sekitar TK J2, Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Kamis (2/7/2026). Berdasarkan analisis kronologi, pemetaan lokasi, dan kajian spasial, tembakan diduga berasal dari tiga titik berbeda yang disebut dilakukan kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letnan Kolonel Infanteri M. Wirya Arthadiguna mengatakan investigasi masih terus dilakukan untuk memastikan seluruh fakta di lapangan. Meski demikian, hasil penyelidikan awal menunjukkan adanya pola serangan yang berasal dari beberapa titik berbeda.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya warga sipil Melkiana Dwitau dalam insiden gangguan tembakan di sekitar TK J2, Kampung Wandoga, Distrik Sugapa. Setiap korban sipil merupakan duka yang tidak diharapkan. Perlindungan masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan tugas Koops TNI Habema,” kata Wirya Arthadiguna dalam keterangan resmi yang diterima di Timika, Jumat (3/7/2026).
Tembakan Berlangsung Sekitar 15 Menit
Berdasarkan hasil analisis kronologi, gangguan tembakan terjadi selama kurang lebih 15 menit dengan pola serangan dari tiga lokasi berbeda.
Tembakan pertama dilaporkan terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga. Lima menit kemudian, suara tembakan kembali terdengar dari kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa. Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok bersenjata kembali melepaskan tembakan dari titik lain sebelum meninggalkan lokasi menuju arah sungai.
“Berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi, gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit,” ujar Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna.
Personel TNI Tidak Melepaskan Tembakan Balasan
Koops TNI Habema menegaskan personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan selama insiden berlangsung.
MenurutWirya Arthadiguna, keputusan tersebut diambil karena situasi di lapangan tidak memungkinkan dilakukannya tindakan bersenjata. Saat kejadian, wilayah Sugapa diguyur hujan disertai kabut tebal yang membatasi jarak pandang personel.
“Selama rangkaian kejadian tersebut, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan. Kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih menempati posisi perlindungan (stelling) sambil memantau situasi, guna menghindari risiko terhadap masyarakat sipil,” jelasnya.
Ia menambahkan, langkah tersebut merupakan bagian dari prosedur untuk meminimalkan potensi jatuhnya korban sipil di tengah situasi yang tidak memungkinkan dilakukan identifikasi sasaran secara jelas.
Analisis Spasial Perkuat Penyelidikan
Selain merekonstruksi kronologi, Koops TNI Habema juga memperkuat penyelidikan melalui analisis spasial terhadap lokasi kejadian.
Hasil analisis menunjukkan ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak antarlokasi sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara posisi korban berada sekitar 321 meter dari titik tembakan pertama dan disebut berjarak lebih jauh dibanding posisi personel Satgas TNI.
Menurut Wirya Arthadiguna, data tersebut menjadi bagian dari bukti teknis yang digunakan untuk mengungkap secara utuh rangkaian peristiwa.
“Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara itu, lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI. Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis kejadian yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya,” terangnya.
Masyarakat Diminta Menunggu Hasil Investigasi
Koops TNI Habema menilai aktivitas kelompok bersenjata di sekitar kawasan permukiman meningkatkan risiko terhadap keselamatan warga sipil. Karena itu, setiap operasi yang dilakukan personel di lapangan disebut tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan perlindungan masyarakat.
Wirya Arthadiguna juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi serta memberikan ruang bagi proses penyelidikan yang masih berlangsung.
“Koops TNI Habema mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi, serta memberikan ruang bagi proses penyelidikan yang dilakukan secara objektif berdasarkan fakta lapangan dan bukti teknis. Transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan masyarakat akan terus menjadi komitmen Koops TNI Habema dalam setiap pelaksanaan tugas,” tutupnya