Amerika Serikat resmi menginjak usia ke-250 (seperempat milenium) pada Sabtu (4/7/2026). Namun, tonggak sejarah besar ini diwarnai oleh ketegangan politik yang sengit. Presiden AS Donald Trump dituding memanfaatkan momen sakral ini sebagai panggung politik pribadinya saat berpidato di hadapan ribuan pendukung di National Mall, Washington DC.
Meskipun diguyur badai petir yang sempat menunda acara, Trump dengan percaya diri menyatakan bahwa “Impian Amerika telah kembali.” Ia menutup pidatonya menjelang tengah malam dengan menyebut momen ini sebagai fajar dari zaman keemasan Amerika yang takdirnya “telah ditulis oleh Tuhan.”
Politisasi Perayaan: “Freedom 250” vs “America 250”
Langkah Trump yang meluncurkan komite acara swasta bernama Freedom 250 memicu gelombang kritik. Komite ini dinilai sengaja dibuat untuk menyaingi America 250, komisi resmi lintas partai yang dibentuk oleh Kongres AS.
Dalam pidatonya, Trump secara gamblang menyelipkan tema-tema kampanye politik, seperti penolakan keras terhadap paham komunisme, dukungan penuh terhadap hak kepemilikan senjata api (the right to bear arms) dan menyuarakan dukungannya atas regulasi kontroversial Save America Act.
Ketegangan ideologis di jalanan ibu kota semakin terasa ketika sekitar 400 anggota kelompok nasionalis kulit putih, Patriot Front, terlihat melakukan aksi berbaris serentak mengenakan masker dan seragam sambil membawa bendera AS di dekat gedung Capitol.
Kontras dengan pidato kemenangan Trump, empat mantan presiden AS yang masih hidup justru mengirimkan pesan yang lebih reflektif dan penuh peringatan mengenai kondisi demokrasi AS saat ini:
Sementara itu, George W. Bush mengingatkan bahwa “250 tahun ke depan menuntut warga Amerika untuk menjadi warga negara yang aktif, bukan sekadar penonton di pinggir lapangan.”