JAKARTA – Pendeta pendiri gereja bawah tanah China akhirnya menghirup udara bebas dan berkumpul kembali bersama keluarganya di Amerika Serikat.
Kebebasan Ezra Jin menjadi perhatian dunia karena sebelumnya ia ditahan dalam operasi besar pemerintah China terhadap gereja yang tidak terdaftar.
Informasi kepulangan Ezra Jin disampaikan putrinya kepada CNN setelah sang ayah menyelesaikan proses pembebasan dari tahanan China.
Ezra Jin dikenal sebagai pendiri Zion Church, salah satu komunitas gereja independen terbesar dan paling berpengaruh yang berkembang di Beijing sejak 2007.
Pemerintah China selama bertahun-tahun menerapkan pengawasan ketat terhadap aktivitas keagamaan di luar lembaga resmi yang diakui negara.
Otoritas Beijing hanya mengizinkan gereja yang terdaftar dan berada di bawah pengawasan pemerintah untuk menjalankan kegiatan ibadah.
Kelompok keagamaan independen kerap menjadi sasaran penyelidikan karena dianggap berada di luar sistem pengawasan negara.
Ezra Jin termasuk dalam puluhan anggota gereja yang diamankan aparat saat gelombang penindakan terhadap komunitas keagamaan meningkat tahun lalu.
Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi perhatian internasional setelah keluarganya meminta dukungan pemerintah Amerika Serikat.
Nama Ezra Jin disebut ikut dibahas ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada Mei lalu.
Tidak lama setelah komunikasi tingkat tinggi tersebut berlangsung, Ezra Jin akhirnya memperoleh kebebasan dan diizinkan meninggalkan China.
Keluarganya menyatakan rasa syukur atas kepulangan sang pendeta setelah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian.
“Kami dipenuhi sukacita dan mengucap syukur kepada Tuhan atas mukjizat yang luar biasa ini,” ujar Grace Jin Drexel seperti dikutip CNN, Minggu (5/7/2026).
Grace juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Donald Trump beserta pemerintahannya atas dukungan diplomatik yang diberikan.
Menurut Grace, pembebasan ayahnya tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan langsung Presiden Xi Jinping dalam proses tersebut.
Ia berharap perkembangan itu menjadi awal yang lebih baik bagi kebebasan beragama di China sekaligus hubungan Beijing dan Washington.
CNN menyebut telah meminta tanggapan kepada Kementerian Luar Negeri China serta Gedung Putih mengenai perkembangan tersebut.
Ezra Jin mendirikan Zion Church pada saat komunitas Kristen independen berkembang pesat di ibu kota China.
Situasi berubah ketika pemerintah memperketat pengawasan terhadap gereja yang tidak memiliki izin resmi mulai 2018.
Tekanan tersebut membuat Ezra Jin bersama keluarganya memilih pindah ke Amerika Serikat sebagai langkah mengurangi tekanan dari otoritas.
Meski keluarganya menetap di Amerika, Ezra Jin kembali ke China untuk mendampingi jemaat yang terus menghadapi intimidasi.
Setelah kembali ke negaranya, ia dilaporkan dilarang bepergian ke luar negeri sebelum akhirnya ditahan.
Komunikasi dengan Ezra Jin terputus sejak Oktober tahun lalu sehingga keluarganya melakukan berbagai upaya untuk mengetahui keberadaannya.
Grace yang bekerja di lingkungan Senat Amerika Serikat kemudian meminta pemerintah membantu memperjuangkan pembebasan ayahnya.
Organisasi hak asasi manusia menyambut kepulangan Ezra Jin sebagai kabar baik bagi perjuangan kebebasan beragama.
Namun mereka mengingatkan masih banyak anggota Zion Church yang tetap berada di balik tahanan.
Sebagian lainnya juga masih menghadapi proses hukum dengan ancaman hukuman pidana yang berat.
Direktur Program Free Them All Freedom House, Brian Tronic, meminta perhatian internasional tidak berhenti pada pembebasan Ezra Jin.
“Masih ada pemimpin dan anggota gereja lain yang belum memperoleh kebebasan,” kata Brian Tronic.
Presiden ChinaAid Bob Fu menyebut pembebasan Ezra Jin sebagai kemenangan besar bagi perjuangan hak beragama.
Meski demikian, Bob Fu menegaskan perjuangan belum selesai selama masih ada tahanan yang dipenjara karena keyakinannya.
Ia juga meminta pemerintah Amerika Serikat terus menjadikan kebebasan beragama sebagai agenda penting dalam setiap dialog dengan Beijing.***