Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh curhatan seorang wisatawan lokal yang mengaku diusir oleh pemilik warung saat tengah berlibur di Pantai Blue Lagoon, Desa Padangbai, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali. Narasi yang beredar menyebutkan bahwa pengusiran tersebut dilakukan demi mengosongkan tempat bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang akan datang.
Merespons tudingan yang menyudutkan usahanya, Luh Putu Susiani selaku pemilik warung akhirnya angkat bicara untuk meluruskan situasi yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Kronologi Versi Pemilik Warung
Susiani menceritakan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar pertengahan Juni 2026. Saat itu, rombongan wisatawan lokal tersebut datang berjumlah lima orang. Satu orang memilih bersantai di tepi pantai, sementara empat orang lainnya duduk di dalam warung. Dari empat orang di warung, tiga di antaranya memesan makanan dan satu orang hanya memesan minuman.
Masalah mulai muncul setelah rombongan tersebut selesai bersantap. Menurut Susiani, mereka kemudian mengeluarkan kartu permainan sendiri dan mulai bermain dalam waktu yang cukup lama, diiringi suara tawa yang agak keras. Mengingat kapasitas meja warungnya yang terbatas dan waktu sudah menjelang siang—di mana omzet warung bergantung pada perputaran pengunjung yang ingin makan—Susiani pun memberikan teguran.
“Saya sama sekali tidak mengusir mereka. Saya hanya meminta dengan baik-baik agar mereka tidak bermain kartu terlalu lama, karena mereka juga sudah selesai makan sejak lama,” jelas Susiani, Jumat (10/7/2026).
Susiani menegaskan, langkah itu murni karena keterbatasan fasilitas tempat duduk di warungnya, bukan karena ingin mengistimewakan turis asing. Usai ditegur, rombongan tersebut langsung menuju kasir untuk membayar, memanggil teman mereka yang berada di pantai, lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
“Saya tidak tahu kalau setelah itu mereka membuat video hingga viral. Saya bahkan tidak bermain media sosial, baru tahu dari karyawan saya. Jujur saya bingung karena merasa tidak pernah mengusir mereka,” tambah Susiani. Ia juga menjelaskan bahwa mengarahkan tamu yang sudah selesai makan ke area santai di tepi pantai saat warung sedang ramai adalah hal yang lumrah dan biasanya para pengunjung lain memahaminya tanpa ada konflik.
Tuduhan dari Sisi Wisatawan
Kondisi ini berbanding terbalik dengan klaim sepihak yang dilayangkan oleh sang wisatawan dalam video viralnya. Dalam rekaman tersebut, seorang perempuan mengungkapkan kekecewaannya karena merasa diperlakukan tidak adil sebagai turis domestik.
Perempuan tersebut menuduh pemilik warung sengaja meminta mereka buru-buru pergi dengan alasan ada rombongan turis asing yang memesan tempat dan dikhawatirkan tidak akan kebagian kursi.
“Kami belum selesai makan tapi (piringnya) sudah diangkat. Mau snorkeling malah diusir, pantas saja tempat ini sepi,” protes perempuan dalam video tersebut.
Meski sempat memicu perdebatan hangat di kalangan netizen mengenai isu diskriminasi terhadap turis lokal di Bali, klarifikasi dari pemilik warung ini memperjelas bahwa ada miskomunikasi terkait aturan ketertiban dan kenyamanan bersama di area rumah makan publik.