Di sebuah desa terpencil di pinggiran Waduk Kedungombo, Jawa Tengah—sekitar 40 kilometer dari hiruk-pikuk pusat Kota Boyolali—seorang bocah berusia 11 tahun baru saja mengukir prestasi yang mengguncang dunia siber internasional. Namanya kini tercatat dan mendapat pengakuan resmi dari lembaga antariksa paling bergengsi di dunia, NASA.
Dialah Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD Negeri 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Boyolali. Ibra sukses mendapatkan surat apresiasi resmi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) Amerika Serikat setelah berhasil menemukan bug atau celah keamanan kritis pada sistem publik mereka.
Pencapaian ini terasa magis dan luar biasa. Ibra tidak lahir di kota besar, juga tidak mengenyam pendidikan di sekolah elite berfasilitas komputer canggih. Ia hanyalah bocah desa yang menjinakkan rimba teknologi secara autodidak dari balik kamar sederhananya.
Berawal dari Kecanduan Game, Diarahkan Jadi Kreator
Di balik kejeniusan Ibra, ada peran besar sang ayah, Aminudin Salas (36). Alih-alih memarahi sang anak yang sempat kecanduan bermain game di ponsel, Aminudin mengambil langkah taktis dengan menantang rasa ingin tahu putranya.
“Daripada cuma main game, saya tanya ke dia, apa tidak tertarik belajar bikin game sendiri? Nah, berangkat dari tantangan kecil itulah dia mulai tertarik dan belajar koding,” ungkap Aminudin, Sabtu (18/7/2026).
Niat belajar itu berubah menjadi lompatan besar. Sejak duduk di bangku kelas 4 SD, Ibra mulai berselancar di YouTube, internet, hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk belajar pemrograman. Dalam enam bulan terakhir, fokusnya menajam ke bidang yang sangat spesifik dan rumit: keamanan siber (cybersecurity).
Meskipun Aminudin merupakan seorang guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMKN Kemusu, ia mengaku angkat tangan jika bicara soal keamanan siber.
“Kalau saya memang ada dasar IT, tapi bukan ke cybersecurity. Saya benar-benar awam soal itu. Jadi, Ibra ini murni belajar autodidak, dibantu beberapa rekan komunitas hacker baik hati yang sering mengiriminya tutorial untuk dipelajari,” imbuh Aminudin.
Melihat keseriusan putranya yang awalnya hanya bermodal ponsel, orang tua Ibra patungan membelikannya komputer bekas, hingga akhirnya mampu memfasilitasinya dengan sebuah laptop untuk menunjang eksperimennya.
Pantang Menyerah: 4 Kali ‘Mengetuk’ Pintu NASA
Surat penghargaan dari Amerika Serikat itu tidak jatuh dari langit begitu saja. Ibra harus melewati proses penolakan dan kegagalan yang melatih mentalitasnya. Melalui program resmi Vulnerability Disclosure Policy (VDP) milik NASA, Ibra tercatat sudah empat kali mengirimkan laporan kerentanan sistem.
“Dia kirim laporan empat kali. Laporan pertama dianggap duplikat, laporan kedua sempat ditolak. Barulah laporan ketiga diterima dan langsung mendapat surat apresiasi resmi. Sementara laporan keempat statusnya sudah disetujui (approved), tinggal menunggu balasan lanjutan,” beber sang ayah bangga.
Program VDP NASA sendiri merupakan panggung bergengsi bagi para peneliti dan pakar keamanan siber dunia untuk menguji ketangguhan sistem digital NASA. Hebatnya, di antara para pakar dunia yang berkompetisi di sana, ada nama seorang bocah kelas 6 SD dari pinggiran Boyolali yang berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah batas untuk menaklukkan dunia.