Di balik deru hiruk-pikuk ibu kota, sebuah pertemuan emosional berlangsung di Kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Jakarta Pusat. Panus Silapo, seorang petani muda asal Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, rela menempuh perjalanan udara ribuan kilometer menuju Jakarta.
Tujuannya hanya satu: bertemu langsung dan menjabat tangan Kepala BGN, Sudaryono, guna menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas uluran tangan negara yang telah mengubah jalan hidupnya.
Suasana haru menyelimuti ruangan ketika Panus menceritakan perjuangannya mengolah tanah di tanah kelahirannya. Sebelum menyentuh bantuan modern dari pemerintah, Panus bertani hanya berbekal alat-alat tradisional seadanya—sekop dan parang.
Berawal dari Cuitan dan Video di Media Sosial
Kisah ini bermula dari unggahan video Panus di platform media sosial TikTok. Dengan peluh yang membasahi dahi, Panus kerap membagikan momen saat ia meretas lahan terjal di pegunungan Papua demi bertahan hidup dan memberi makan keluarganya.
Kegigihan tersebut rupanya menarik perhatian Sudaryono, yang kala itu masih mengemban amanat sebagai Wakil Menteri Pertanian (Wamentan). Merekam semangat pantang menyerah anak muda Papua tersebut, Sudaryono bergerak cepat mengirimkan bantuan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) berupa unit traktor langsung ke Wamena.
Dalam pertemuan tersebut, Sudaryono kembali mengenang momen saat pertama kali melihat unggahan Panus yang menyentuh hatinya.
“Saya suka lihat Mas Panus penuh semangat di TikTok, waduh bagus sekali. Tapi bertaninya masih pakai sekop. Kalau semangat seperti ini harus kita bantu. Akhirnya Kementerian Pertanian mengirimkan traktor ke tempatnya Bang Panus, ada lima unit,” mengenang Sudaryono saat menyambut hangat kedatangan Panus.
Sudaryono menegaskan bahwa bantuan tersebut bukanlah sekadar simbolis, melainkan wujud nyata kehadiran negara untuk mengangkat derajat perekonomian masyarakat di pelosok negeri.
“Negara hadir untuk membantu rakyat. Abang butuh bibit atau alat pertanian, bilang ke saya. Tugas saya adalah membantu Abang menjadi sukses dengan bertani, dan Papua akan semakin maju,” tegas mantan Wamentan tersebut.
Menepis Stigma, Mengolah Asa Demi Keluarga
Bagi Panus, menjadi petani di kawasan pegunungan bukanlah pilihan yang populer. Ia mengaku tak jarang mendapat ejekan dari rekan sebaya karena memilih turun ke ladang usai menempuh pendidikan.
“Banyak teman-teman yang bilang, sekolah jauh-jauh tapi kok ujung-ujungnya berkebun. Tapi saya tetap lakukan apa yang saya kerjakan, yang penting bisa bertahan hidup buat keluarga,” tutur Panus dengan suara bergetar menahan haru.
Ia menceritakan betapa beratnya membalik tanah pegunungan yang keras hanya dengan mengandalkan tenaga otot dan sekop. Masuknya bantuan traktor tidak hanya memangkas durasi pengerjaan lahan, tetapi juga melipatgandakan hasil produksi pertaniannya.
Dukungan teknologi pertanian yang diterima Panus dan kelompok tani di Wamena menjadi cikal bakal penting bagi modernisasi sektor pertanian di wilayah Papua Pegunungan. Dengan lahan yang kini tergarap lebih maksimal, sektor pertanian di sana tidak lagi sekadar menjadi sarana bertahan hidup harian, melainkan menjadi pilar utama kemandirian pangan daerah.
Kisah Panus Silapo menjadi cermin bahwa perhatian pemerintah tidak berhenti di pusat-pusat kota. Dedikasi seorang petani lokal di ujung timur Indonesia, ketika bersinergi dengan respons cepat pejabat negara, mampu melahirkan asa baru bagi kesejahteraan masyarakat marjinal.