JAKARTA – Kementerian Pertanian mempercepat langkah menuju swasembada kedelai melalui kolaborasi riset bersama Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan benih kedelai unggul dengan produktivitas tinggi agar impor kedelai terus berkurang.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai keterlibatan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, inovasi dari dunia akademik harus mampu menjawab kebutuhan petani sekaligus meningkatkan hasil produksi di lapangan.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam audiensi terbatas antara jajaran Kementerian Pertanian dan pimpinan Unesa di Jakarta.
Dalam pertemuan itu, Mentan secara langsung menantang Unesa menciptakan varietas kedelai unggul berdaya hasil tinggi.
Target yang dipasang cukup ambisius, yakni menghasilkan kedelai sebanyak 5 hingga 6 ton per hektare.
Apabila target tersebut tercapai, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan terhadap impor kedelai secara signifikan.
Pemerintah juga memastikan dukungan penuh bagi inovasi benih yang terbukti efektif meningkatkan produktivitas petani.
“Tidak mungkin pemerintah bekerja sendiri. Kampus harus menjadi pusat inovasi, TNI dan Polri membantu pendampingan di lapangan, sementara petani menjadi pelaku utama. Kalau semua bergerak bersama, saya optimistis swasembada kedelai bisa kita wujudkan,” kata Mentan di Jakarta, Senin.
Mentan menegaskan hasil riset yang terbukti berhasil akan didorong untuk diterapkan secara nasional.
“Kalau benihnya bagus dan hasilnya terbukti, kita akan dorong untuk dikembangkan secara nasional. Yang kita cari sekarang adalah inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas petani,” ujar Mentan.
Ia menilai sinergi pemerintah, perguruan tinggi, aparat, dan petani menjadi kunci mempercepat swasembada kedelai.
Dukungan juga datang dari Unesa yang menyatakan siap mengembangkan benih unggul sesuai target pemerintah.
Wakil Rektor IV Unesa Dwi Cahyo Kartiko memastikan kampusnya siap mengawal seluruh proses hingga penerapan di lapangan.
“Kami menyampaikan kepada Pak Menteri apabila benih unggul itu berhasil dikembangkan, kami siap mengawal implementasinya,” kata Dwi.
Unesa menargetkan produktivitas 5 hingga 6 ton per hektare pada lahan percontohan seluas 56 hektare.
Model tersebut diharapkan menjadi acuan pengembangan kedelai di berbagai daerah di Indonesia.
Pengalaman Unesa mendukung program ketahanan pangan menjadi modal penting dalam proyek tersebut.
Sebelumnya, Unesa mendampingi pengembangan jagung bersama Polda Jawa Timur dengan hasil yang dinilai positif.
Meski Fakultas Ketahanan Pangan baru berdiri pada 2025, kampus itu telah dipercaya menangani berbagai program strategis.
Kemitraan juga diperluas bersama Yonif TP 932 Sunan Bonang Tuban yang menyiapkan sekitar 600 hektare lahan.
Lahan tersebut akan dimanfaatkan sebagai kawasan pengembangan kedelai dalam mendukung target swasembada nasional.
Menurut Dwi, tantangan terbesar saat ini ialah menghadirkan benih yang mampu mencapai produktivitas tinggi secara konsisten.
Karena itu, koordinasi antara Unesa dan Kementerian Pertanian terus diperkuat agar seluruh tahapan berjalan optimal.
Selain pengembangan benih, Unesa juga memperluas riset ketahanan pangan untuk melahirkan inovasi pertanian berkelanjutan.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi fondasi penting bagi peningkatan produksi kedelai nasional dalam beberapa tahun mendatang.***



