JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpeluang melanjutkan tren positif pada perdagangan Senin setelah menutup pekan lalu di zona hijau.
Pada awal perdagangan hari ini, Senin (3/8/2026) IHSG berada di level 6.272,62, naik 36,49 poin atau 0,58 persen.
Penguatan ini melanjutkan penguatan akhir pekan lalu, Jumat (31/7/2026)
dimana IHSG menguat 0,80 persen dan berakhir di level 6.236 meski aksi jual bersih investor asing masih terjadi.
Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan net sell sekitar Rp35 miliar di tengah penguatan indeks domestik.
Saham BBCA, AMMN, ANTM, UNTR, dan TLKM tercatat menjadi emiten yang paling banyak dilepas oleh investor asing.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka hingga menguji area resistansi utama.
“IHSG hari ini berpeluang untuk melanjutkan kenaikan ke level resistansi kuat di 6.300. Namun hati-hati jika belum kuat untuk tembus di atas level 6.300, IHSG berpotensi koreksi lagi,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Senin, 3 Juli 2026.
Menurut proyeksinya, area support IHSG berada pada kisaran 6.120 hingga 6.200, sedangkan resistansi diperkirakan berada di rentang 6.270 sampai 6.300.
Pelaku pasar juga masih mengamati perkembangan konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia dan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi.
Harga minyak WTI tercatat naik sekitar 1,3 persen menjadi USD84,68 per barel, sedangkan Brent meningkat 1,2 persen ke level USD90,12 per barel.
Selain faktor energi, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat terkait pengendalian inflasi.
Fanny menilai pasar masih meragukan efektivitas langkah Ketua The Fed Kevin Warsh dalam menekan tekanan harga meski komitmen tersebut terus ditegaskan.
“Pernyataannya bahwa ‘tidak ada tongkat ajaib’ untuk mengatasi tekanan harga, dinilai belum cukup menenangkan pasar,” ucap Fanny.
Meski demikian, mayoritas indeks saham di Amerika Serikat dan kawasan Asia mampu menutup perdagangan akhir pekan lalu di zona positif.
Dari dalam negeri, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah indikator ekonomi yang dijadwalkan rilis sepanjang pekan ini.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menyebut data PMI Manufaktur, pertumbuhan ekonomi, indeks harga properti, dan cadangan devisa menjadi sorotan.
Pada hari ini, Badan Pusat Statistik dijadwalkan mengumumkan data inflasi dan neraca perdagangan yang berpotensi memengaruhi arah IHSG.
Tim Phintraco juga menilai penurunan harga BBM non-subsidi yang berlaku mulai 1 Agustus 2026 dapat menjadi sentimen positif tambahan bagi pasar.
“Sementara itu harga BBM non-subsidi turun mulai 1 Agustus 2026. Turunnya harga BBM ini berpotensi menambah faktor positif,” kata Tim Phintraco.***



