Jumlah korban jiwa terus melonjak seiring masuknya tim penyelamat (SAR) ke hari kedua pencarian korban selamat di bawah puing-puing bangunan akibat gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,4 yang mengguncang Kolombia.
Gempa kuat tersebut mengguncang pada Senin (10/8/2026) pagi sekitar pukul 07.30 waktu setempat, dengan pusat gempa berada di dekat San José del Palmar, Kolombia bagian barat. Getarannya terasa hingga ke kota-kota besar di seluruh negeri. Menurut data USGS (U.S. Geological Survey), diperkirakan 10,5 juta orang merasakan guncangan hebat tersebut. Bangunan bertingkat dan pemukiman warga runtuh seketika, mengubur hidup-hidup para penghuni di dalamnya.
Hingga Selasa (11/8/2026) pagi, otoritas setempat mengonfirmasi sedikitnya 164 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
Aparat kepolisian, tentara, hingga relawan warga terus menyisir area reruntuhan. Sepanjang malam, mereka menggunakan alat berat ekskavator—bahkan kerap hanya mengandalkan tangan kosong—demi menemukan tanda-tanda kehidupan.
Jumlah Korban Tewas Melonjak di Berbagai Kota
Angka kematian merangkak naik melebihi 160 jiwa seiring tim gabungan berhasil menembus celah-celah reruntuhan bangunan utama.
Walikota Cali, Alejandro Eder, mengonfirmasi sedikitnya 85 orang tewas di wilayahnya, yang berjarak sekitar 240 kilometer di selatan pusat gempa. Eder menambahkan, lebih dari 800 warga lainnya mengalami luka-luka.
Sementara itu di Pereira, ibu kota Provinsi Risaralda, otoritas setempat melaporkan 66 orang tewas. Di Provinsi Choco, wilayah berpenduduk jarang yang menjadi lokasi titik pusat gempa, tercatat 13 orang meninggal dunia.
Pacu Waktu Selamatkan Korban yang Terjebak
Operasi penyelamatan berlangsung tanpa henti. Walikota Cali mengungkapkan melalui media sosialnya bahwa sedikitnya ada 25 orang yang masih terperangkap di dalam sebuah gedung bertingkat yang ambruk total. Ia menegaskan para petugas tidak akan berhenti bekerja sebelum seluruh warga kota ditemukan.
Cerita haru datang dari Carmen Yasmin Garcia (43), seorang warga Cali yang menjadi relawan tim penyelamat. Ia menceritakan bagaimana timnya berjuang membongkar reruntuhan gedung demi menyelamatkan warga yang tertimbun.
“Beberapa saat lalu kami masih mendengar suara garukan dari balik reruntuhan, tetapi sekarang suaranya menghilang. Namun kami masih meyakini ada harapan korban dan seekor anjing di dalamnya masih hidup,” tutur Garcia. “Kami sangat membutuhkan bantuan alat gali, cangkul, dan tambahan tenaga. Semakin banyak orang yang membantu, semakin besar peluang kita menyelamatkan mereka.”


