JAKARTA — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memimpin pembacaan doa dalam Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI yang digelar di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Dalam doanya, Menag secara khusus memohon perlindungan bagi bangsa Indonesia dari ancaman fitnah, pengkhianatan, serta berbagai bentuk tipu daya yang berpotensi mengganggu keutuhan bangsa.
Doa yang dipimpin Nasaruddin menjadi bagian pembuka dari rangkaian Sidang Tahunan MPR yang mempertemukan para pemangku kepentingan negara untuk membahas arah dan capaian bangsa. Dalam kesempatan itu, Menag menyampaikan harapan agar forum tahunan tersebut dapat memperkokoh sinergi seluruh elemen bangsa dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
“Semoga sidang tahunan kali ini menjadi momentum terbaik untuk menyinergikan segenap potensi bangsa yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Yaitu sebuah bangsa yang menjunjung tinggi persatuan, kesatuan, dan kebersamaan di dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsanya,” ucap Nasaruddin di hadapan peserta sidang.
Mohon Perlindungan dari Fitnah dan Pengkhianatan
Poin yang menjadi sorotan dalam doa Menag adalah permohonan agar Indonesia dijauhkan dari ancaman fitnah dan pengkhianatan, baik yang datang dari dalam maupun luar negeri. Nasaruddin turut menyelipkan pesan reflektif, mengajak segenap elemen bangsa untuk terbuka menerima kritik apabila tudingan yang dilayangkan terbukti benar, namun tetap memohonkan ampunan bagi pihak yang menyampaikan kritik secara keliru.
“Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah dan pengkhianatan. Selamatkan kami dari berbagai tipu daya dan rekayasa negatif hamba-Mu. Sadarkanlah diri kami untuk mengoreksi diri jika fitnah dan kritikan mereka itu benar. Ampuni mereka jika fitnah dan kritikan mereka itu keliru,” kata Nasaruddin.
Minta Keadilan untuk Masyarakat Lemah Tanpa Memandang Latar Agama
Selain menyoal ancaman terhadap keutuhan bangsa, Menag turut memanjatkan doa bagi masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan hidup. Ia menegaskan bahwa perlindungan negara semestinya menyentuh seluruh warga tanpa terkecuali, tidak terbatas pada kelompok tertentu berdasarkan tingkat ketaatan beragama.
“Ya Allah, bantulah siapapun hamba-Mu yang terzalimi, yang lemah di muka bumi ini, baik yang taat beragama maupun yang belum taat, karena sesungguhnya mereka juga adalah hamba ciptaan-Mu yang membutuhkan pertolongan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan penekanan Menag terhadap prinsip inklusivitas dalam upaya perlindungan terhadap kelompok rentan, sekaligus menegaskan bahwa persoalan keadilan sosial semestinya tidak dikotomisasi berdasarkan identitas keagamaan warga.
Harapkan Indonesia Jadi Negeri yang Makmur dan Damai
Mengakhiri doanya, Nasaruddin menyampaikan harapan agar Indonesia dapat tumbuh menjadi bangsa yang sejahtera, aman, dan penuh keberkahan. Ia menggunakan ungkapan dalam bahasa Arab dan Jawa untuk menggambarkan cita-cita tersebut, yang merepresentasikan perpaduan nilai spiritual dan kearifan lokal.
“Jadikanlah bangsa dan negeri kami sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo,” pungkas Nasaruddin, menutup doa dalam pembukaan Sidang Tahunan MPR RI tersebut.
Sidang Tahunan MPR RI 2026 sendiri digelar sebagai agenda rutin ketatanegaraan yang mempertemukan lembaga-lembaga negara untuk menyampaikan laporan kinerja tahunan sekaligus merumuskan langkah strategis bangsa ke depan.



