KUALA LUMPUR, MALAYSIA – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan komitmen negaranya terhadap kebijakan “Satu China” dengan menyatakan bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayah China. Ia bahkan secara terbuka mendukung hak Beijing untuk mengamankan keutuhan wilayahnya, termasuk lewat opsi militer jika diperlukan. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah Taiwan yang mengancam bakal mengevaluasi kepercayaan investasi di Malaysia.
Sikap tegas tersebut disampaikan Anwar dalam wawancara khusus bersama Al Jazeera. Ia menekankan bahwa penegakan kedaulatan negara atas wilayah yang ingin memisahkan diri merupakan prinsip universal yang dianut banyak negara di dunia.
“Taiwan sebagai bagian dari China, titik. Jika satu provinsi memutuskan untuk memisahkan diri, apakah kita akan menggunakan kekuatan militer? Saya rasa saya akan melindungi keutuhan dan persatuan bangsa,” tegas Anwar dalam wawancara tersebut.
Pernyataan orang nomor satu di pemerintahan Malaysia itu langsung direspon tajam oleh Kementerian Luar Negeri Taiwan di Taipei. Pemerintah Taiwan mendesak Malaysia untuk menghormati status quo dan kehendak rakyat pulau tersebut yang secara *de facto* bertindak sebagai negara merdeka. Taipei menilai dukungan sepihak Kuala Lumpur terhadap retorika militer Beijing berpotensi merusak hubungan ekonomi kedua belah pihak.
“Dukungan sepihaknya terhadap China dapat berdampak negatif pada kepercayaan bisnis Taiwan untuk berinvestasi di Malaysia,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Taiwan.
Taipei juga menyindir reputasi Anwar yang selama ini dikenal di panggung internasional sebagai figur reformis. “Pemimpin Malaysia itu selama ini menampilkan dirinya sebagai pembela demokrasi dan hak asasi manusia, yang mencakup penghormatan terhadap kehendak rakyat Taiwan,” lanjut kementerian tersebut, sembari memperingatkan bahwa ancaman penggunaan kekuatan di Selat Taiwan sangat merusak kepercayaan politik bilateral.
Berbeda dengan respons keras Taipei, Kementerian Luar Negeri China menyambut hangat posisi politik yang diambil Kuala Lumpur. Juru Bicaranya, Lin Jian, menyampaikan apresiasi tinggi atas konsistensi Malaysia dalam mendukung kedaulatan Beijing.
“China mengapresiasi pernyataan Perdana Menteri Anwar. Saya ingin menegaskan kembali bahwa hanya ada satu China di dunia. Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah China, dan China harus serta akan bersatu kembali,” ujar Lin Jian.
Menanggapi gelombang kritik dan ancaman dari Taiwan, Anwar Ibrahim memilih tidak mencabut pernyataannya. Usai menghadiri peluncuran TikTok Shop Summit Malaysia 2026 di Kuala Lumpur pada Kamis (20/8/2026), Anwar menegaskan kembali bahwa posisi yang diambilnya berlandaskan pada sejarah diplomasi Malaysia sejak masa kepemimpinan Perdana Menteri kedua, Tun Abdul Razak Hussein.
“Menurut saya kebijakan tersebut tetap ada dan akan terus kita junjung. Tentu saja kami ingin mencari jalan damai bila memungkinkan,” ujar Anwar sebagaimana dikutip dari *The Star*.
Ia menambahkan bahwa sikapnya sejajar dengan contoh-contoh sejarah penegakan kedaulatan di negara lain, termasuk Amerika Serikat saat menghadapi ancaman pemisahan wilayah.
“Saya yakin posisi itu benar. Seperti yang saya tunjukkan, Amerika Serikat sendiri pernah mengalami Perang Kemerdekaan Amerika dan tidak mengizinkan wilayah mana pun untuk memisahkan diri. Oleh karena itu, saya hanya mengambil posisi yang konsisten,” pungkas Anwar membela diplomasinya.





