JAKARTA — Aktivitas gempa susulan masih berlangsung di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat 5.688 gempa susulan hingga Minggu, 23 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.
Sementara itu, gempa susulan dengan kekuatan paling kecil tercatat bermagnitudo 1,1 berdasarkan hasil pemantauan seismik BMKG.
Dari ribuan kejadian tersebut, sebanyak 32 gempa memiliki magnitudo di atas 5, sedangkan 130 gempa lainnya dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Meski aktivitas seismik mulai memperlihatkan kecenderungan menurun, BMKG meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi guncangan berikutnya.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyebut fase awal gempa susulan masih berlangsung cukup kompleks.
“Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan,” kata Wijayanto.
Pada hari pertama, BMKG mencatat 704 gempa susulan, kemudian meningkat menjadi 746 kejadian pada hari berikutnya.
Aktivitas tersebut kemudian tercatat sebanyak 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima setelah gempa utama.
Namun, jumlah gempa kembali melonjak pada hari keenam dengan 802 kejadian, menunjukkan aktivitas seismik belum sepenuhnya stabil.
BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan masih dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama.
Sejumlah gempa susulan juga memiliki kekuatan cukup besar dan menimbulkan guncangan yang dirasakan warga di sejumlah wilayah terdampak.
Pada 19 Agustus, gempa bermagnitudo 5,6 tercatat mengguncang wilayah tersebut, disusul dua gempa bermagnitudo 5,8 pada 20 Agustus.
Guncangan kuat dari rangkaian gempa tersebut turut menyebabkan kerusakan tambahan pada sejumlah bangunan dan infrastruktur di wilayah NTT.
Aktivitas gempa tidak tersebar merata, tetapi cenderung terkonsentrasi dalam beberapa klaster di sekitar sumber gempa utama.
Salah satu kawasan aktivitas berada di utara Nagekeo yang mengikuti jalur Flores Back-Arc Thrust sebagai bagian dari sistem sumber gempa regional.
Di sisi lain, pemerintah masih melakukan pendataan dampak kerusakan akibat gempa utama yang mengguncang Flores dan wilayah sekitarnya.
BNPB mencatat 53.971 rumah rusak di tujuh kabupaten terdampak, sementara proses verifikasi kondisi lapangan masih terus dilakukan.
Rinciannya meliputi 19.006 rumah rusak berat, 11.777 rumah rusak sedang, dan 23.188 rumah mengalami kerusakan ringan.
BNPB mengerahkan tim ke tujuh kabupaten untuk memastikan data kerusakan sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Verifikasi tersebut menjadi dasar penting untuk menentukan kebutuhan penanganan darurat hingga tahap rehabilitasi dan pemulihan wilayah terdampak.
Sementara itu, BMKG tetap mengoperasikan sistem pemantauan gempa selama 24 jam untuk mengikuti perkembangan aktivitas tektonik di Flores.
Setiap kejadian dianalisis berdasarkan jumlah gempa, magnitudo, lokasi sumber, arah perkembangan aktivitas, serta karakteristik sumber gempa.
Informasi hasil pemantauan tersebut terus diperbarui sebagai bahan peringatan dan pengambilan keputusan bagi pemerintah serta masyarakat.***





