SUMSEL— Kualitas udara Kota Palembang memburuk drastis pada Minggu (23/8/2026). Data pemantauan IQAir mencatat indeks kualitas udara (AQI) Palembang mencapai 222 pada sekitar pukul 12.51 WIB, menempatkannya sebagai kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia saat itu.
Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat , dengan polutan utama yang terdeteksi berupa Particulate Matter 2.5 (PM2.5). Kondisi itu terjadi ketika suhu udara di Palembang dilaporkan mencapai sekitar 36 derajat Celsius.
Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah menjadi salah satu faktor yang memperburuk kualitas udara. Asap tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Sumatera Selatan.
Pekatnya kabut asap bahkan terlihat menutupi sejumlah kawasan permukiman dan ruas jalan. Kondisi tersebut turut direkam warga dan beredar melalui media sosial, memperlihatkan jarak pandang yang menurun akibat kepulan asap.
Palembang Lampaui Kota-Kota dengan Polusi Tinggi
Posisi Palembang sebagai kota dengan polusi udara tertinggi terlihat dalam pembaruan data IQAir pada Minggu siang. Dalam pembaruan sekitar pukul 12.54 WIB, AQI Palembang tercatat 222.
Palembang berada di atas Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, yang mencatat AQI 211. Berikutnya ada Kuching, Malaysia, dengan indeks 191, kemudian Kampala, Uganda, sebesar 185.
Sementara itu, Jakarta berada di posisi berikutnya dengan AQI 161, disusul Baghdad, Irak, dengan indeks 154.
Tingginya indeks kualitas udara tersebut menunjukkan kondisi atmosfer Palembang sedang berada dalam tekanan polusi yang cukup berat, terutama akibat tingginya konsentrasi PM2.5.
PM2.5 Jadi Polutan Utama
PM2.5 merupakan partikel pencemar udara berukuran sangat kecil, yakni memiliki diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya, partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi maupun dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan dan kardiovaskular.
Konsentrasi PM2.5 dapat berasal dari berbagai aktivitas pembakaran dan sumber emisi. Dalam kondisi Palembang saat ini, karhutla menjadi salah satu sumber yang berkaitan dengan memburuknya kualitas udara.
Selain kebakaran hutan dan lahan, partikel tersebut juga dapat berasal dari emisi kendaraan bermotor, pembakaran sampah dan biomassa, aktivitas industri, asap rokok, serta proses pembakaran lainnya.
Di tengah kondisi udara yang masuk kategori sangat tidak sehat, masyarakat perlu membatasi paparan terhadap asap dan polutan. Warga juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.
Kondisi kualitas udara Palembang tersebut terjadi bersamaan dengan masih berlangsungnya persoalan karhutla di Sumatera Selatan yang memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah.





