MOSKOW — Rusia membuka peluang menjadi mediator untuk membantu meredakan ketegangan yang terus membayangi kawasan Timur Tengah.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Alimov menyampaikan kesiapan tersebut kepada media Rusia, Izvestia, sebagaimana diberitakan TASS pada Selasa (25/8/2026).
Menurut Alimov, Moskow dapat mengambil peran jika memperoleh permintaan resmi dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam konflik.
Langkah diplomatik itu diarahkan untuk membantu menghentikan agresi terhadap Iran sekaligus mendorong terciptanya stabilitas yang lebih luas.
Rusia juga menawarkan kemungkinan mediasi melalui konsep keamanan Teluk Persia yang sedang diperbarui dan tengah didorong Moskow.
“Jika ada permintaan, Rusia siap mendukung upaya mediasi, baik terkait penghentian agresi terhadap Iran maupun, secara lebih luas, pemeliharaan stabilitas di Timur Tengah, termasuk dalam kerangka konsep keamanan Teluk Persia yang diperbarui yang sedang kami dorong,” ujarnya.
Alimov menegaskan bahwa kestabilan Timur Tengah bukan hanya berkaitan dengan negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga menyangkut kepentingan banyak pihak.
Ia turut menyoroti Lebanon sebagai salah satu persoalan yang dapat memperumit jalur diplomasi di kawasan.
Situasi di Lebanon disebut berpengaruh terhadap upaya menghidupkan kembali dialog antara Amerika Serikat dan Iran yang masih menghadapi ketegangan.
Perbedaan kepentingan Washington dan Teheran hingga kini menjadi salah satu hambatan utama dalam membangun kembali proses negosiasi.
Dalam kondisi tersebut, Moskow menilai pendekatan diplomatik tetap penting untuk mencegah ketegangan berkembang semakin luas.
Kesiapan Rusia menjadi mediator menunjukkan upaya Moskow menawarkan jalur diplomasi di tengah kompleksitas konflik Timur Tengah.
Jika mendapat permintaan dari pihak terkait, Rusia menyatakan siap membantu mendorong penghentian agresi serta memperkuat keamanan kawasan Teluk Persia.***



