JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (3/9/2026).
Proyeksi tersebut muncul setelah IHSG pada perdagangan Rabu ditutup melemah 0,06 persen ke level 6.595,78.
Analis Pasar Modal Tim Phintraco Sekuritas menilai tekanan jual masih membayangi pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini.
“Secara teknikal, IHSG tertekan oleh volume jual. Sehingga hari ini, pergerakan IHSG diprakirakan ‘sideways’ (datar) di kisaran 6.550-6.650,” kata Analis Pasar Modal dari Tim Phintraco Sekuritas
Secara teknikal, area 6.550 menjadi level penting yang perlu diperhatikan investor dalam perdagangan hari ini.
Jika IHSG mampu menembus level tersebut, indeks berpeluang melanjutkan pengujian ke area di atas 6.500.
Di sisi lain, sentimen eksternal masih menjadi tantangan bagi pasar saham Indonesia akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negara-negara besar.
“Kenaikan yield untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga di tengah potensi meningkatnya kembali inflasi. Sehingga investor global cenderung memasuki mode risk-off (menghindari risiko),” ujar Tim Phintraco.
Kondisi tersebut dapat membuat investor global mengurangi kepemilikan aset berisiko dan memilih instrumen dengan tingkat keamanan yang dinilai lebih tinggi.
“Para investor lebih memilih investasi pada US-Treasury (surat obligasi pemerintah AS). Karena obligasi AS menawarkan imbal hasil lebih menarik dengan risiko yang lebih rendah,” ucap Tim Phintraco.
Perpindahan dana menuju aset Amerika Serikat berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dampaknya dapat terlihat melalui tekanan terhadap rupiah, peningkatan yield Surat Berharga Negara (SBN), hingga naiknya biaya pendanaan bagi perusahaan.
Meski demikian, kondisi domestik masih berpeluang menjadi penyangga bagi pasar saham Indonesia di tengah tekanan eksternal.
“Prospek pertumbuhan ekonomi domestik, kebijakan BI, kenaikan harga komoditas, serta aksi korporasi emiten diharapkan dapat mengimbangi tekanan global,” kata Tim Phintraco lagi.
Sementara itu, pemerintah bersama Komisi XI DPR telah menyepakati sejumlah asumsi dasar ekonomi makro untuk Rancangan APBN 2027.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 ditargetkan mencapai 6 persen dengan asumsi inflasi sebesar 2,5 persen.
Pemerintah dan DPR juga menetapkan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS serta yield SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9 persen.
Belanja negara akan diarahkan untuk memperkuat investasi dan mendukung sejumlah sektor strategis, termasuk infrastruktur, hilirisasi, pangan, energi, pendidikan, serta kesehatan.
Namun, perkembangan kebijakan fiskal tetap menjadi perhatian investor karena berpengaruh terhadap persepsi risiko dan stabilitas pasar keuangan.
“Namun investor perlu mencermati kredibilitas fiskalnya. Khususnya dalam mengelola defisit anggaran,” kata Tim Phintraco menutup analisisnya.***