JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai stabilitas ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.
Menurut Purbaya, ketahanan ekonomi nasional turut menjaga kepercayaan investor internasional terhadap prospek Indonesia.
“Kepercayaan investor tercermin dari terjaganya peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional.”
“S&P Global Ratings mempertahankan peringkat BBB/stable, sedangkan Lianhe Ratings Global memberikan peringkat AAA/Stable,” ujar Purbaya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.
Ia menjelaskan, kepercayaan tersebut didukung oleh sejumlah indikator fundamental ekonomi yang masih menunjukkan kinerja positif.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Semester I-2026 tercatat sebesar 5,45 persen, sementara inflasi Agustus 2026 berada di level 3,19 persen secara tahunan.
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus sebesar 3,7 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juli 2026.
Kekuatan eksternal juga tercermin dari posisi cadangan devisa yang mencapai 145,3 miliar dolar AS.
Pada periode yang sama, nilai tukar rupiah tercatat menguat hingga berada di kisaran Rp17.720 per dolar AS.
Purbaya mengatakan arus modal asing yang tetap masuk menjadi sinyal bahwa investor global masih melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik.
Hingga 28 Agustus 2026, total aliran modal yang masuk ke Indonesia tercatat mencapai Rp140,6 triliun.
Pergerakan pasar Surat Berharga Negara juga dinilai menunjukkan kondisi yang relatif stabil dengan yield SBN tenor acuan 10 tahun berada di sekitar tujuh persen.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan titik tertinggi yield SBN 10 tahun yang tercatat 7,39 persen pada 11 Juni 2026.
Penurunan yield tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa tekanan di pasar keuangan domestik relatif terkendali.
“Solidnya kinerja perekonomian domestik tersebut berhasil membuat terjaganya kepercayaan dunia,” ujarnya.
Purbaya juga melihat sentimen positif masih mewarnai pasar keuangan Indonesia melalui sejumlah indikator utama.
“Sentimen positif di pasar keuangan domestik terus berlanjut, tercermin dari apresiasi nilai tukar rupiah, penguatan IHSG, dan perkembangan yield SBN yang kondusif.”
“Hal tersebut diperkuat oleh aliran modal masuk yang sampai dengan 28 Agustus 2026 mencapai Rp140,6 triliun,” katanya.
Menurut dia, perkembangan tersebut memperlihatkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih terpelihara.
Pemerintah pun berkomitmen mempertahankan stabilitas ekonomi agar momentum positif tersebut dapat terus berlanjut.
Kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian menjadi tantangan yang perlu diantisipasi melalui kebijakan fiskal dan pengelolaan pasar keuangan yang terukur.
Dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi, perdagangan, cadangan devisa, serta arus modal yang relatif positif, pemerintah melihat fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat.***