JAKARTA – Setiap 3 September, Indonesia memperingati salah satu tonggak penting dalam sejarah kepalangmerahan nasional. Tanggal tersebut menjadi awal dari proses pembentukan Palang Merah Indonesia (PMI), organisasi kemanusiaan yang hingga kini berperan dalam pelayanan darah, penanganan bencana, hingga berbagai kegiatan sosial.
Sejarah PMI bermula tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Saat kondisi negara masih dalam masa awal mempertahankan kemerdekaan, kebutuhan terhadap organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan menjadi semakin penting.
Soekarno Perintahkan Pembentukan Badan Kepalangmerahan
Pada 3 September 1945, Presiden Soekarno memberikan perintah kepada Menteri Kesehatan saat itu, dr. Boentaran Martoatmodjo, untuk membentuk badan kepalangmerahan nasional.
Perintah tersebut menjadi langkah awal pembentukan organisasi Palang Merah Indonesia. Dua hari kemudian, tepatnya 5 September 1945, dibentuk sebuah panitia yang bertugas mempersiapkan badan kepalangmerahan tersebut.
Panitia itu dikenal sebagai Panitia Lima dan bertugas menyusun pembentukan organisasi yang nantinya menjadi PMI.
PMI Resmi Terbentuk 17 September 1945
Setelah melalui proses persiapan, Palang Merah Indonesia akhirnya resmi dibentuk pada 17 September 1945.
Dalam kepengurusan awalnya, Wakil Presiden Mohammad Hatta dipercaya menjadi ketua. Pembentukan PMI menjadi bagian penting dari upaya pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan kemanusiaan setelah kemerdekaan.
Dengan demikian, terdapat perbedaan penting antara kedua tanggal tersebut. 3 September 1945 merupakan awal perintah pembentukan badan kepalangmerahan, sementara 17 September 1945 menjadi tanggal berdirinya PMI.
Peran PMI Sejak Masa Kemerdekaan
Pada masa awal berdirinya, PMI langsung menghadapi situasi yang tidak mudah. Indonesia masih berada dalam periode revolusi dan konflik bersenjata setelah proklamasi kemerdekaan.
Kegiatan kemanusiaan menjadi salah satu fokus utama PMI. Organisasi tersebut turut menangani korban perang serta membantu proses pengembalian tawanan perang pada masa revolusi kemerdekaan.
Peran tersebut kemudian berkembang seiring berjalannya waktu. PMI tidak hanya bergerak ketika terjadi konflik atau bencana, tetapi juga menjalankan berbagai kegiatan sosial kemanusiaan di tengah masyarakat.
Donor Darah Jadi Salah Satu Layanan Utama
Salah satu kegiatan PMI yang paling dikenal masyarakat adalah pelayanan donor dan transfusi darah.
Melalui unit donor darah yang tersebar di berbagai daerah, PMI membantu menyediakan kebutuhan darah bagi masyarakat yang membutuhkan transfusi.
Dalam laman resminya, PMI menyebut organisasi tersebut memiliki peran dalam membantu pemerintah memenuhi kebutuhan pelayanan darah transfusi sekaligus menjalankan pelayanan sosial kemanusiaan. PMI juga menyediakan informasi mengenai stok darah dan kegiatan donor melalui platform Ayodonor.
Tujuh Prinsip Dasar Jadi Pedoman
Dalam menjalankan kegiatan kemanusiaannya, PMI berpegang pada tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
Prinsip tersebut meliputi kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan, dan kesemestaan.
Prinsip-prinsip tersebut menjadi landasan dalam berbagai aktivitas kepalangmerahan, termasuk pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan.
3 September Jadi Pengingat Sejarah PMI
Tanggal 3 September memiliki arti penting karena menjadi titik awal perjalanan terbentuknya organisasi Palang Merah Indonesia. Namun, tanggal tersebut tidak sama dengan tanggal resmi berdirinya PMI.
Perintah Presiden Soekarno pada 3 September 1945 kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan Panitia Lima pada 5 September. Setelah proses persiapan selesai, PMI resmi terbentuk pada 17 September 1945.
Lebih dari delapan dekade kemudian, PMI tetap menjalankan berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, mulai dari pelayanan darah, penanganan bencana, hingga pengembangan relawan di berbagai daerah.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa perjalanan PMI telah dimulai sejak masa-masa awal Indonesia berdiri sebagai negara merdeka dan terus berkembang mengikuti kebutuhan kemanusiaan masyarakat.