JAKARTA – New York Knicks menghadapi persoalan baru dalam rencana memperpanjang kontrak Karl-Anthony Towns setelah Victor Wembanyama memilih menerima bayaran lebih rendah bersama San Antonio Spurs.
Wembanyama menandatangani perpanjangan lima tahun senilai US$252 juta atau sekitar Rp4,43 triliun bersama Spurs.
Padahal, bintang asal Prancis itu berpeluang mendapatkan kontrak hingga sekitar US$303 juta atau Rp5,32 triliun melalui skema 30 persen salary cap.
Wembanyama memilih kontrak berbasis 25 persen salary cap untuk memberi ruang finansial lebih besar kepada Spurs membangun tim kompetitif di sekelilingnya.
Keputusan tersebut berpotensi menjadi pembanding penting bagi pemain-pemain NBA lain ketika memasuki meja negosiasi kontrak baru.
Situasi itu termasuk bagi Towns yang kini menjadi salah satu bagian utama Knicks setelah membantu klub tersebut meraih gelar NBA musim ini.
Mengutip laporan Daily Knicks, Rabu (9/9/2026), kontrak Towns masih menyisakan dua musim, tetapi tahun kedua merupakan player option yang dapat ia tolak demi mencari kesepakatan dengan nilai lebih tinggi.
Towns tercatat memiliki gaji sekitar US$57,08 juta atau Rp1,00 triliun pada musim 2026-27 dan player option sekitar US$61,02 juta atau Rp1,07 triliun untuk musim berikutnya.
Knicks tentu ingin mempertahankan Towns, tetapi besarnya kontrak baru akan sangat menentukan kemampuan klub menjaga komposisi juara mereka.
Saat ini, New York juga harus memperhitungkan kontrak besar Jalen Brunson, OG Anunoby, dan Mikal Bridges dalam struktur gaji tim.
Karena itu, Knicks berpotensi berharap Towns bersedia mengambil nilai kontrak yang lebih rendah agar mereka tidak kehilangan pemain penting lainnya.
Namun, posisi tawar Towns tetap kuat setelah kontribusinya membantu Knicks melewati perjalanan menuju gelar NBA.
Ia dapat melihat pencapaiannya di New York sebagai alasan kuat untuk meminta bayaran maksimal atau setidaknya mendekati angka tersebut.
Masalahnya, kontrak maksimal Towns berpotensi mempersempit ruang gerak Knicks dalam mempertahankan seluruh pemain inti mereka pada tahun-tahun berikutnya.
Keputusan Wembanyama membuat persoalan tersebut semakin menarik karena pemain sekelas bintang utama NBA pun ternyata bersedia mengorbankan potensi pendapatan demi fleksibilitas tim.
Wembanyama sebenarnya bisa mendapatkan kontrak sekitar US$303 juta atau Rp5,32 triliun, tetapi memilih paket US$252 juta atau Rp4,43 triliun.
Artinya, terdapat potensi selisih sekitar US$51 juta atau Rp896 miliar dari nilai maksimal tersebut berdasarkan kurs terkini.
Langkah Wembanyama juga mengingatkan pada keputusan Brunson yang sebelumnya mengambil pendekatan finansial berbeda demi membantu Knicks mempertahankan inti tim mereka.
Brunson memang tidak secara langsung memangkas gajinya, tetapi memilih memperpanjang kontrak lebih awal sehingga meninggalkan potensi pendapatan yang lebih besar.
Strategi tersebut terbukti menguntungkan Knicks karena mereka kemudian mampu mempertahankan fondasi tim hingga akhirnya menjadi juara.
Kini, Wembanyama kembali menunjukkan bahwa pengorbanan finansial dari seorang superstar dapat menjadi alat penting untuk membangun tim jangka panjang.
Bagi Knicks, keputusan tersebut bisa menjadi bahan pembicaraan ketika negosiasi kontrak baru dengan Towns dimulai.
Towns tentu memiliki hak untuk mengejar nilai maksimal setelah membuktikan perannya dalam kesuksesan Knicks.
Namun, manajemen New York juga mempunyai alasan kuat untuk meminta kompromi agar keseimbangan skuad tetap terjaga.
Dengan kondisi tersebut, pembicaraan kontrak Towns berpotensi menjadi salah satu persoalan finansial paling penting yang harus diselesaikan Knicks dalam beberapa tahun ke depan.
Keputusan Wembanyama akhirnya bukan sekadar kabar mengenai kontrak Spurs, tetapi juga dapat memengaruhi standar negosiasi bintang NBA lainnya.
Bagi Knicks, pertanyaannya kini menjadi sederhana tetapi sulit dijawab: berapa harga yang pantas dibayar untuk mempertahankan Karl-Anthony Towns tanpa merusak fondasi tim juara?***