JAKARTA — Bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah daerah. Di Sulawesi Selatan, krisis air bersih telah berdampak pada ribuan warga, sementara kebakaran lahan juga terjadi di beberapa wilayah hingga Maluku.
Berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat (11/9/2026) pukul 07.00 WIB, penanganan bencana masih dilakukan di wilayah terdampak. Upaya tersebut mencakup distribusi air bersih bagi masyarakat yang mengalami kekurangan pasokan serta pemadaman titik api.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kondisi kekeringan di sejumlah daerah membutuhkan penanganan di lapangan, terutama untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, kekeringan mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih sejak Kamis (10/9/2026). Penurunan debit sumber air baku membuat 2.292 jiwa atau sekitar 724 kepala keluarga (KK) terdampak.
Warga yang terdampak tersebar di 56 desa dan 17 kelurahan yang berada di 13 kecamatan. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah bersama petugas gabungan untuk mengaktifkan langkah penanganan darurat.
“BPBD Kabupaten Wajo bersama petugas gabungan melakukan pendataan dan pelaporan serta mengaktifkan posko darurat bencana kekeringan,” ujar Berton.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, sebanyak 84.000 liter air bersih telah didistribusikan ke sejumlah lokasi terdampak. Penyaluran dilakukan menggunakan 17 unit mobil tangki dengan total kapasitas 81.000 liter serta dua unit tandon berkapasitas 3.000 liter.
Persoalan kekeringan juga mulai mengganggu sektor pertanian di Kabupaten Sinjai. Sekitar 314 hektare lahan persawahan di Kecamatan Sinjai Barat mengalami keterbatasan pasokan air.
Petugas di lapangan mencatat sejumlah kebutuhan untuk mendukung pengairan lahan pertanian, mulai dari mesin pompa air, pipa penyalur hingga bahan bakar. Peralatan tersebut diperlukan untuk mengalirkan air dari sungai terdekat menuju saluran irigasi yang digunakan warga.
Di tengah persoalan kekeringan, ancaman kebakaran lahan juga masih terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Di Kabupaten Gowa, kebakaran pada Kamis (10/9/2026) siang menghanguskan sekitar 6 hektare lahan. Area terdampak berada di Kecamatan Parigi, Pattallassang, dan Bontomarannu.
Sehari sebelumnya, kebakaran juga terjadi di Kabupaten Enrekang. Sekitar 5 hektare lahan di Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja, terbakar pada Rabu (9/9/2026) malam.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD di kedua daerah tersebut telah melakukan penanganan dan berhasil memadamkan seluruh titik api.
Karhutla dengan luasan lebih besar terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Dua kejadian kebakaran yang berlangsung pada awal September tercatat menghanguskan total 45,2 hektare lahan di Kecamatan Bula Barat dan Teluk Waru.
Meskipun kebakaran telah berhasil dipadamkan, penanganan di wilayah tersebut masih berlangsung. Status tanggap darurat bencana juga masih diberlakukan.
“Wilayah tersebut masih berstatus tanggap darurat bencana yang masa berlakunya telah diperpanjang hingga awal Oktober 2026,” kata Berton.
BNPB menyatakan seluruh rangkaian kejadian kekeringan dan karhutla tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Meski demikian, pemerintah daerah dan masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan karena kondisi lahan kering masih berpotensi memicu kebakaran.
Masyarakat juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Aktivitas yang dapat menimbulkan percikan api di kawasan yang kering juga perlu dihindari untuk mencegah kebakaran meluas.
Sementara bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan air bersih, BNPB mengingatkan agar penggunaan air dilakukan secara hemat dan diprioritaskan untuk kebutuhan pokok sehari-hari.
BNPB juga meminta warga segera melapor dan berkoordinasi dengan posko BPBD apabila menemukan titik api atau membutuhkan bantuan air bersih. Langkah tersebut diperlukan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sesuai kondisi di lapangan.