JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto meminta Dewan Energi Nasional (DEN) mempercepat sejumlah agenda strategis untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Arahan tersebut diberikan ketika tekanan geopolitik global masih berpotensi memengaruhi keamanan pasokan dan harga energi nasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan arahan itu seusai Sidang DEN yang berlangsung di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (17/9/2029).
Salah satu fokus utama pemerintah ialah mempercepat pengembangan bahan bakar nabati berbasis etanol sebagai alternatif untuk menekan impor BBM.
Prabowo meminta DEN menyiapkan berbagai kebutuhan untuk penerapan E20 dan E50 dalam sistem energi nasional.
E20 merupakan BBM dengan kandungan etanol 20 persen, sedangkan E50 memiliki komposisi etanol hingga 50 persen.
Menurut Bahlil, pengembangan bahan bakar berbasis etanol diarahkan untuk memperbesar ketersediaan energi dari dalam negeri.
“Ini sebagai bentuk daripada mendorong ketersediaan BBM dalam negeri,” ujar Bahlil.
Pemerintah menjadikan pelaksanaan program B50 sebagai salah satu pengalaman dalam mempercepat penerapan bahan bakar nabati berbasis etanol.
Program B50 menggunakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dan 50 persen solar sebagai bahan bakar kendaraan.
Program tersebut mulai diberlakukan sejak 1 Juli 2026 dan diperkirakan mampu menghemat devisa hingga Rp170 triliun sepanjang tahun ini.
“Yang ini (B50) mengantarkan kita untuk tidak lagi melakukan impor solar. Nah, belajar dari sini, Bapak Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah-langkah yang sama untuk kita membangun E20, E50,” kata dia.
Selain pengembangan energi terbarukan, Prabowo juga meminta peningkatan produksi minyak dari sumur-sumur yang sudah beroperasi.
DEN diminta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi agar produksi dari ladang migas eksisting dapat ditingkatkan.
Pemerintah juga tengah menginventarisasi sekitar 45.000 sumur rakyat yang dinilai membutuhkan pola pengelolaan lebih profesional.
Optimalisasi sumur tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat pasokan minyak nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Di samping itu, kita juga akan mendorong eksplorasi besar-besaran terhadap cekungan-cekungan blok-blok minyak,” imbuh dia.
Agenda penguatan sektor energi turut mencakup tindak lanjut terhadap Rancangan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi atau RUU Migas.
Bahlil mengatakan Prabowo telah menerima laporan DEN mengenai perkembangan pembahasan regulasi tersebut.
Dalam arah kebijakan ke depan, pemerintah berencana memperkuat posisi DEN dalam penyusunan kebijakan energi nasional.
Salah satu gagasan yang disampaikan ialah menempatkan DEN secara langsung di bawah Presiden dalam kerangka kelembagaan kebijakan energi.
Prabowo juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam menyusun kebijakan energi nasional.
Kolaborasi pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha dinilai diperlukan agar kebijakan energi dapat disusun secara lebih komprehensif.
“Kita melakukan kerja sama yang baik antara akademisi, pelaku usaha, dengan pemerintah dalam membuat kebijakan energi ke depan,” pungkasnya.***