JAKARTA – Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, diguncang gempa bumi magnitudo 5,0 pada Selasa (22/9/2026) pagi.
Gempa tektonik tersebut tercatat terjadi pada pukul 06.48 WIB berdasarkan hasil pemantauan dan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
BMKG memperbarui parameter gempa dengan kekuatan M5,0 dan kedalaman hiposenter sekitar 13 kilometer.
Pusat gempa berada di koordinat 4,56 derajat Lintang Utara dan 125,30 derajat Bujur Timur.
Episenter gempa terletak di wilayah laut, sekitar 107 kilometer barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan gempa tersebut tidak memiliki potensi memicu tsunami.
“Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo 5.0 pada kedalaman 13 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 4,56° LU; 125,30° BT,” kata Wijayanto.
BMKG mengidentifikasi gempa tersebut sebagai gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas subduksi di kawasan tersebut.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi.”
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik ( oblique thrust fault),” ucap Wijayanto.
Peta tingkat guncangan BMKG menunjukkan gempa dirasakan dengan intensitas berbeda di sejumlah wilayah Kepulauan Sangihe dan sekitarnya.
Wilayah Kepulauan Marore tercatat mengalami guncangan hingga IV MMI berdasarkan estimasi shakemap BMKG.
Pada tingkat III MMI, getaran dirasakan di Kendahe, Nusa Tabukan, dan Kota Tahuna, Kepulauan Sangihe.
Sementara itu, Kota Melonguane merasakan getaran pada tingkat II MMI, dengan sejumlah benda ringan yang digantung dapat mengalami pergerakan.
Hingga pukul 07.10 WIB, BMKG belum mendeteksi adanya gempa susulan setelah gempa utama tersebut.
Pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas seismik di sekitar pusat gempa.
BMKG juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang sumbernya tidak jelas.
“Masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi,” ujar Wijayanto.
Masyarakat yang menemukan bangunan mengalami keretakan atau kerusakan akibat guncangan diminta menjauhi lokasi tersebut demi keselamatan.***