JAKARTA – Di tengah padatnya permukiman dan pembangunan perkotaan, lahan persawahan masih bisa ditemukan di sejumlah sudut Jakarta. Namun, luasnya kini hanya sebagian kecil dari keseluruhan wilayah ibu kota.
Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mencatat luas sawah aktif di Jakarta pada 2026 sekitar 279 hektare. Luasan tersebut hanya sekitar 0,42 persen dari total wilayah DKI Jakarta. Area persawahan itu antara lain berada di Kalideres, Cakung, dan Cilincing.
Salah satu kawasan yang masih mempertahankan aktivitas pertanian adalah Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Di kawasan tersebut, petani masih menggarap sawah meski lingkungan sekitarnya terus berkembang menjadi kawasan perkotaan.
Rorotan Jadi Salah Satu Kantong Sawah Jakarta
Rorotan menjadi salah satu wilayah yang masih memiliki hamparan sawah cukup luas. Data dari kelompok tani setempat pada akhir Agustus 2026 menyebut area sawah di Rorotan sekitar 317 hektare, sedangkan lahan yang masih digarap di Marunda sekitar 40 hektare. Angka kelompok tani tersebut merupakan data kawasan dan tidak sama definisinya dengan angka sawah aktif Dinas KPKP DKI.
Sirojudin Abas merupakan salah satu petani yang masih bertahan di Rorotan. Ia mengelola lahan sekitar 3,1 hektare yang tersebar di empat lokasi.
Sebagian lahan yang digarapnya bukan milik pribadi. Lahan tersebut antara lain merupakan milik kerabat, pemerintah daerah, dan badan usaha milik daerah.
Sirojudin diketahui telah mengenal kegiatan bertani sejak kecil. Ia kemudian kembali aktif menggarap sawah di kampung halamannya setelah sempat menempuh pendidikan di luar daerah.
Produksi Sawah Masih Berjalan
Meski berada di tengah kawasan metropolitan, aktivitas pertanian di Rorotan masih terus berlangsung. Petani melakukan penanaman hingga panen dengan kondisi yang sangat dipengaruhi cuaca.
Sebelumnya, ANTARA mencatat lahan pertanian Rorotan mencapai sekitar 319 hektare dan menggunakan sejumlah varietas padi, antara lain Ciherang, Inpari 30, dan Situ Bagendit. Produktivitas yang dilaporkan saat itu sekitar 6,5 ton gabah siap giling per hektare.
Di tingkat DKI Jakarta, data BPS menunjukkan luas panen padi pada 2025 mencapai 273,54 hektare. Angka tersebut turun 45,11 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 498,31 hektare. Produksi padi pada 2025 tercatat 1.487,45 ton gabah kering giling.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertanian padi masih berlangsung di Jakarta, meskipun ruang yang tersedia semakin terbatas.
Lahan Pertanian Tertekan Perkembangan Kota
Keberadaan sawah di Rorotan berdampingan dengan berbagai fasilitas perkotaan. Sejumlah area yang sebelumnya berupa lahan pertanian telah berubah seiring pembangunan infrastruktur, permukiman, serta fasilitas lainnya.
Dalam laporan mengenai kondisi petani Rorotan, Sirojudin menyebut pembangunan TPU untuk korban COVID-19 pernah mengurangi sekitar 4-5 hektare lahan kelompok taninya. Ia juga menyoroti pembangunan fasilitas pengolahan sampah RDF di Rorotan serta rencana pembangunan stasiun kereta yang disebut membutuhkan sekitar 40 hektare lahan.
Di sisi lain, kawasan tersebut tetap menjadi salah satu bagian penting dari aktivitas pertanian yang masih bertahan di Jakarta Utara.
Petani Menghadapi Persoalan Lahan dan Cuaca
Selain tekanan pembangunan, petani Rorotan juga menghadapi persoalan lingkungan. Banjir sempat merendam sawah di kawasan Rorotan dan Marunda pada awal 2026 hingga menyebabkan tanaman padi rusak.
ANTARA melaporkan sejumlah lahan bahkan terendam cukup lama. Kondisi itu membuat sebagian petani mengalami kesulitan mengolah sawah dan menghadapi risiko gagal panen.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, petani masih mempertahankan kegiatan bercocok tanam di lahan yang tersisa.
Keberadaan persawahan di Jakarta kini menjadi pemandangan yang semakin jarang ditemui. Dengan luas sawah aktif yang hanya sekitar 0,42 persen dari wilayah DKI, Rorotan dan kawasan sekitarnya menjadi contoh bagaimana aktivitas pertanian tetap bertahan di tengah perkembangan metropolitan.