JAKARTA – Emma Raducanu menghadapi jalan panjang untuk kembali ke papan atas setelah peringkatnya merosot ke posisi 100 dunia.
Situasi tersebut membuat petenis Inggris itu berpotensi kehilangan akses langsung ke sejumlah turnamen besar.
Kondisi Raducanu berbeda dengan Alex Eala yang setahun lalu masih berjuang dari turnamen berlevel lebih rendah.
Eala kemudian membangun momentum melalui rangkaian pertandingan WTA 125 dan WTA 250 sebelum menembus panggung elite.
Mengutio Tennis365, Selasa (29/9/2026), pada Miami Open 2025, Eala membuat kejutan besar dengan mencapai semifinal dan mengalahkan Iga Swiatek.
Hasil tersebut menjadi salah satu titik penting yang memperlihatkan potensi Eala di level tertinggi tenis putri.
Namun, setahun lalu peringkat Eala belum cukup tinggi untuk memperoleh tempat langsung di turnamen WTA 1000.
Ia bahkan tersingkir pada babak pertama kualifikasi Wuhan ketika mencoba menembus turnamen elite.
Eala tidak berhenti setelah kegagalan tersebut dan tetap mengumpulkan pengalaman melalui berbagai turnamen.
Pada periode yang sama, ia tampil di WTA 125 Jingshan dan Suzhou serta beberapa turnamen WTA 250 di Asia.
Rangkaian pertandingan itu kemudian menjadi bagian dari proses yang mengantarkan Eala menuju terobosan besar.
Pola tersebut kini dapat menjadi pertimbangan bagi Raducanu ketika menyusun strategi comeback setelah mengalami penurunan ranking.
Tenar Sejak Usia 18 Tahun
Raducanu melejit ke ketenaran dunia setelah memenangkan US Open 2021 saat masih berusia 18 tahun.
Status sebagai juara Grand Slam membuatnya beberapa kali mendapat wildcard ketika peringkatnya tidak cukup untuk masuk langsung.
Namun, kondisi itu tidak selalu dapat menjadi solusi ketika persaingan pemain muda terus semakin ketat.
Raducanu juga harus menghadapi persoalan kebugaran setelah mengalami cedera stres pada kakinya.
Cedera tersebut terjadi ketika ia melaju ke final turnamen WTA 500 Queen’s Club pada Juni 2026.
Data WTA menunjukkan Raducanu berada di peringkat 100 dunia pada pekan 28 September 2026.
Sebelumnya, peringkat Raducanu masih berada di posisi 70 pada akhir Agustus sebelum terus mengalami penurunan.
Kemerosotan ranking tersebut membuat jalur menuju turnamen Grand Slam dan WTA 1000 menjadi lebih menantang.
Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah kembali bertanding melalui turnamen WTA 125 atau WTA 250.
Format tersebut memungkinkan Raducanu mendapatkan kembali ritme pertandingan melawan lawan dengan peringkat lebih rendah.
Pertandingan kompetitif juga dapat membantu mengembalikan ketajaman permainan setelah periode panjang tanpa bertanding.
Langkah serupa pernah dijalani Eala sebelum namanya kemudian semakin diperhitungkan dalam persaingan tenis putri.
Dengan demikian, proses pemulihan Raducanu tidak hanya berkaitan dengan posisi ranking, tetapi juga kontinuitas bertanding.
Raducanu masih memiliki opsi menggunakan protected ranking pada turnamen tertentu sesuai ketentuan WTA.
Namun, kesempatan tersebut terbatas sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan comeback dan kalender kompetisi.
Eala Jadikan Level Bawah Sebagai Fondasi
Sementara itu, Eala menunjukkan bagaimana pertandingan level bawah dapat menjadi fondasi untuk membangun momentum baru.
Perjalanan Eala tersebut memberikan gambaran bahwa proses kembali ke level elite tidak selalu harus dimulai dari turnamen terbesar.
Raducanu kini memasuki fase penting dalam kariernya setelah beberapa tahun menghadapi cedera dan inkonsistensi kompetisi.
Jika kembali bertanding, fokus utama bukan sekadar memperbaiki ranking, tetapi membangun kembali konsistensi dan kesiapan pertandingan.
Kalender kompetisi akhir 2026 dapat menjadi ruang bagi Raducanu untuk menguji kondisi sebelum memasuki musim berikutnya.
WTA mencatat peringkat Raducanu sempat mencapai posisi 23 pada 2026 sebelum turun secara bertahap.
Perubahan tersebut menunjukkan betapa cepat posisi pemain dapat bergeser ketika kehilangan kesempatan tampil secara rutin.
Kini, kisah kebangkitan Eala menawarkan salah satu contoh perjalanan yang dapat dipelajari Raducanu.
Bukan soal meniru seluruh langkah Eala, melainkan memanfaatkan kompetisi yang tersedia untuk membangun kembali fondasi performa.
Kondisi Raducanu juga berbeda karena ia memiliki pengalaman Grand Slam dan tekanan publik yang jauh lebih besar.
Karena itu, keputusan mengenai turnamen berikutnya akan bergantung pada kondisi fisik, jadwal serta strategi timnya.
Bila memilih kembali melalui kompetisi level lebih rendah, Raducanu memiliki kesempatan untuk mengasah kembali performanya secara bertahap.***