Wajah Prancis menyajikan pemandangan mencekam pada Minggu (18/10/2026) pagi. Usai diterjang gelombang kerusuhan dan unjuk rasa masif sepanjang Sabtu, kota-kota utama seperti Paris terbangun di tengah pecahan kaca toko, bangkai mobil dan sepeda yang hangus terbakar, serta tumpukan puing puing yang berserakan di trotoar.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sedikitnya 1.800 orang ditangkap setelah sekitar 550.000 demonstran membanjiri jalanan. Meskipun aksi unjuk rasa terkait lonjakan harga bahan bakar, krisis biaya hidup, dan keterpurukan fasilitas sekolah sejatinya berlangsung damai di sebagian titik, kelompok perusuh bertopeng hitam memicu kekacauan fatal di Paris, Marseille, Lille, hingga kota-kota lainnya.
Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, mengonfirmasi bahwa sebanyak 150 petugas kepolisian terluka akibat bentrokan hebat tersebut.
Jejak Vandalisme Toko Mewah dan Tangisan Pemilik Usaha
Di Paris, jejak kehancuran terlihat jelas di kawasan bisnis eksklusif. Etalase toko busana kelas dunia seperti Ralph Lauren, Gucci, hingga Versace hancur berantakan. Dinding-dinding bangunan dipenuhi coretan graffiti radikal bertuliskan “Tax the rich” (Pajak orang kaya) dan “Eat the rich”.
Pemilik sebuah toko pakaian di dekat Place de la République mengungkapkan kepedihannya saat menyaksikan rekaman CCTV. Selama satu setengah jam, kelompok penjarah bertopeng leluasa menguras isi tokonya tanpa ada kehadiran aparat keamanan.
“Mereka bukan demonstran sejati yang memperjuangkan fasilitas sekolah atau biaya hidup. Para penjarah ini murni memanfaatkan momentum demonstrasi untuk berbuat kriminal,” tegas sang pemilik toko yang enggan disebutkan namanya.
Penjarahan massal juga menyasar gerai McDonald’s dan Apple Store di Lille, serta penyerangan gerai ponsel oleh gerombolan remaja bertopeng yang terekam kamera keamanan di berbagai titik.
Anarki di Marseille, Lyon, hingga Gedung Bersejarah 143 Tahun Runtuh
Eskalasi kekerasan menyebar luas ke berbagai wilayah Prancis dengan tingkat kerusakan yang amat parah. Perusuh membobol Balai Kota Marseille menggunakan pagar besi sebagai alat penobrak (battering ram).
Gedung Balai Kota Limoges yang berusia 143 tahun hancur dan sebagian strukturnya runtuh total usai dibakar secara sengaja. Prefek Wilayah Haute-Vienne, Maurice Barate, mengutuk keras serangan “gerombolan liar” tersebut.
Kantor Pusat Informasi Pariwisata di Lyon yang merupakan cagar budaya ikonik hangus terbakar. Wali Kota Grégory Doucet menyebut insiden ini sebagai “tragedi yang menghancurkan hati”. Polisi melaporkan kelompok hostil sempat menghalangi petugas pemadam kebakaran di lokasi.
Seorang pemuda dilaporkan mengalami luka tragis hingga tangannya putus di Saint-Etiene akibat ledakan peledak rakitan kecil di tengah bentrokan.
Puncak Kemarahan Atas Krisis Sekolah dan Layanan Publik
Gelombang protes masif ini merupakan puncak dari aksi mogok ratusan ribu pelajar dan mahasiswa yang meletus sejak akhir bulan lalu. Mereka menuntut investasi mendesak untuk sektor pendidikan guna mengatasi krisis kekurangan guru, kelas yang terlalu padat, serta fasilitas bangunan sekolah yang rusak parah.
Namun, tuntutan sosial tersebut kian membias usai ditunggangi oleh aksi kekerasan terorganisir di wilayah Grenoble, Avignon, Pau, Montpellier, hingga Valence. Pagi ini, truk-truk pembersih sampah dan para pemilik toko bekerja ekstra keras menyapu serpihan kaca dan puing-puing, sementara Prancis melangkah masuk ke dalam krisis politik dan keamanan yang makin pekat.