JAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI Oleh Soleh mendorong Project Badr menjadi pintu masuk alih teknologi dan penguatan industri pertahanan Indonesia melalui kerja sama dengan Qatar, Turkiye, dan Pakistan.
Oleh mendukung penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Project Badr di Doha, Qatar, Rabu (21/10/2026). Ia menegaskan, kerja sama tersebut harus memberikan manfaat nyata bagi kemandirian pertahanan nasional, bukan sekadar pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
“Saya mendukung penuh kerja sama melalui Project Badr ini. Kolaborasi Indonesia dengan Qatar, Turkiye, dan Pakistan dapat menjadi peluang besar untuk memperkuat industri pertahanan nasional sekaligus meningkatkan kemampuan pertahanan masing-masing negara,” ujar Oleh di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Menurut legislator Fraksi PKB itu, Indonesia perlu memaksimalkan kerja sama tersebut untuk memperkuat penguasaan teknologi dan kapasitas industri pertahanan dalam negeri.
Karena itu, implementasi Project Badr diharapkan mencakup alih teknologi, penelitian dan pengembangan, pertukaran pengetahuan, serta latihan militer bersama.
“Kalau kerja sama ini dijalankan secara konkret dan berkelanjutan, kita tidak hanya memperkuat kemampuan militer, tetapi juga membangun kemandirian industri pertahanan. Indonesia harus bisa mengambil manfaat sebesar-besarnya, terutama dalam penguasaan teknologi dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri,” katanya.
### Project Badr Diharapkan Tarik Investasi
Selain alih teknologi, Oleh berharap Project Badr menarik investasi dari negara-negara mitra untuk mengembangkan fasilitas produksi dan riset teknologi pertahanan di Indonesia.
Namun, ia mengingatkan, investasi tersebut harus memperkuat industri nasional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan mendorong penguasaan teknologi di dalam negeri.
“Harapan kita, semakin banyak investor yang tertarik masuk ke industri pertahanan Indonesia. Namun, investasi tersebut harus disertai komitmen untuk memperkuat industri nasional, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, dan mendorong alih teknologi yang terukur,” ujarnya.
Oleh menilai, pengalaman kerja sama pertahanan Indonesia dengan Turkiye dapat menjadi modal untuk memperluas kolaborasi dengan Qatar dan Pakistan.
Ia berharap Project Badr tidak berhenti pada penandatanganan kesepakatan, tetapi berlanjut ke program konkret yang memperkuat kemampuan produksi, teknologi, dan kemandirian industri pertahanan Indonesia dalam jangka panjang.
Kerja sama empat negara tersebut juga diharapkan mempererat kemitraan strategis untuk menjaga stabilitas dan keamanan kawasan maupun internasional.