JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat tidak ada insiden keamanan pangan selama uji coba sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) gelombang pertama yang berlangsung pada awal hingga pertengahan Oktober 2026.
Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, mengatakan hasil pemantauan tersebut menjadi salah satu catatan dalam evaluasi awal penerapan metode prasmanan di sekolah.
“Catatan kami mengenai keamanan pangan juga menunjukkan bahwa hal tersebut terjaga dengan nihil insiden keamanan (zero safety incidents). Artinya, tidak ada insiden keamanan pangan selama proses penyajian program prasmanan ini atau saat makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat,” kata Tysa.
Dalam sistem prasmanan, makanan yang telah selesai dimasak langsung ditempatkan dalam wadah khusus sebelum dikirim ke sekolah. Nasi, lauk-pauk, dan sayuran disiapkan dalam wadah masing-masing untuk kemudian disajikan kepada penerima manfaat.
Menurut Tysa, metode tersebut memiliki potensi mengurangi risiko kontaminasi dibandingkan proses pemorsian menggunakan sistem kotak makan. Dalam sistem kotak, beberapa petugas dapat terlibat dalam proses memasukkan nasi, lauk-pauk, dan sayuran ke setiap wadah makanan.
Sementara itu, pada sistem prasmanan, makanan langsung ditempatkan dalam wadah setelah dimasak. Dengan demikian, proses pemorsian satu per satu dapat dihindari.
Meski demikian, kebersihan tetap menjadi perhatian selama makanan didistribusikan dan disajikan di sekolah. Dalam pelaksanaannya, siswa yang bertugas membantu penyajian juga diminta menggunakan perlengkapan pelindung, seperti sarung tangan dan penutup kepala.
BGN turut menyiapkan prosedur operasional standar untuk memastikan penyajian makanan berjalan sesuai ketentuan. Sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ingin menerapkan sistem prasmanan harus mendapatkan persetujuan dari kantor pusat BGN.
Prosedur tersebut diperlukan untuk menjaga higienitas sekaligus memastikan makanan yang diberikan kepada siswa memenuhi ketentuan kecukupan gizi.
Di sisi lain, BGN masih mengevaluasi sejumlah tahapan pelaksanaan, termasuk waktu persiapan sebelum makanan dikonsumsi. Berdasarkan catatan uji coba, proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 45 menit.
Evaluasi dilakukan agar pelaksanaan sistem prasmanan semakin efisien, tanpa mengurangi perhatian terhadap kebersihan makanan dan prosedur penyajian.
BGN berharap hasil uji coba dapat menjadi dasar untuk menyempurnakan sistem prasmanan sebelum diterapkan lebih luas. Dengan evaluasi berkelanjutan dan kepatuhan terhadap prosedur, metode ini diharapkan dapat mendukung penyelenggaraan MBG yang aman dan berkualitas bagi para siswa.