JAKARTA – Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI), Sjafrie Sjamsoeddin terima kunjungan kehormatan dari Kepala Staf Gabungan Komisi Militer Pusat Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jenderal Liu Zhenli, beserta delegasi dari Chinese People’s Liberation Army (CPLA) di Kementerian Pertahanan, Jakarta, pada Jumat (10/1/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat hubungan pertahanan antara kedua negara.
Kegiatan diawali dengan upacara jajar kehormatan dan pemeriksaan pasukan di halaman Kementerian Pertahanan. Selanjutnya, Menteri Sjafrie memandu Jenderal Liu untuk melihat beberapa lukisan dan foto pahlawan Indonesia, seperti Laksamana Yos Sudarso dan Jenderal Ahmad Yani, yang terpampang di lorong kantor Kemenhan. Setelah itu, pertemuan dilanjutkan di ruang kerja Menteri Pertahanan untuk melakukan diskusi lebih lanjut.
Pada pertemuan tersebut, kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat hubungan pertahanan bilateral antara Indonesia dan RRT. Menteri Sjafrie menyatakan bahwa Indonesia dan Tiongkok bukan hanya sekadar mitra, tetapi juga saudara, mengingat keduanya berada di kawasan Asia dengan kultur budaya yang serupa.
“Penting bagi kita untuk terus menjalin komunikasi yang intensif, sebagaimana yang telah digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Xi Jinping,” ujar Menhan Sjafrie.
Momen ini menjadi sangat signifikan, mengingat pada tahun 2025 kedua negara akan memperingati 75 tahun hubungan diplomatiknya. Menteri Sjafrie juga mengungkapkan harapan agar komunikasi dan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok semakin solid, khususnya dalam bidang pertahanan.
Jenderal Liu Zhenli mengapresiasi kerjasama yang telah terjalin selama ini dan berharap hubungan antara kedua negara bisa semakin erat di berbagai level. Ia juga menyoroti pentingnya pertukaran personel militer antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelatihan dan kemampuan masing-masing pihak.
Menhan Sjafrie juga menyampaikan terima kasih atas dukungan China dalam pembangunan Indonesia, termasuk di bidang modernisasi militer. “Kami berharap ada peluang kerjasama dalam pengadaan peralatan militer yang saling menguntungkan,” tambah Menhan.
Menteri Pertahanan RI menegaskan bahwa Indonesia mengadopsi politik luar negeri bebas aktif, yang memungkinkan negara untuk memperkuat hubungan dengan negara manapun tanpa terikat dalam pakta pertahanan. Hal ini, menurutnya, sangat sejalan dengan tujuan Indonesia untuk berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia.
Kepala Biro Penerangan Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Frega Wenas mengatakan bahwa salah satu pembahasan penting dalam pertemuan tersebut adalah rencana untuk memperkuat latihan militer bersama, serta penyelenggaraan pertemuan “2+2” antara Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri kedua negara. Pertemuan tersebut direncanakan akan digelar di Beijing pada tahun 2025.
Dengan diadakannya pertemuan ini, kedua negara berharap dapat lebih meningkatkan hubungan bilateral dan kerjasama pertahanan, serta memperkuat kemampuan bersama dalam menghadapi tantangan global di masa depan.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut adalah Panglima TNI, Wakil Menteri Pertahanan, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan,