WASHINGTON, D.C. AS – Presiden AS Donald Trump mengumumkan penetapan kembali kelompok Houthi Yaman, yang dikenal sebagai Ansar Allah, sebagai “organisasi teroris asing”.
Keputusan ini, yang diumumkan oleh Gedung Putih, akan memperkenalkan sanksi ekonomi yang jauh lebih keras daripada yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Biden terhadap kelompok yang memiliki ikatan dengan Iran.
Langkah ini merupakan respons terhadap serangan-serangan Houthi yang semakin mengganggu pelayaran komersial di Laut Merah serta menargetkan kapal-kapal perang AS di kawasan tersebut.
Bagi sebagian pihak, langkah ini dianggap terlambat. Namun, beberapa ahli memperingatkan bahwa penetapan ini bisa memperburuk situasi dengan mempengaruhi mereka yang memiliki hubungan dengan Houthi, termasuk organisasi bantuan yang beroperasi di wilayah tersebut.
Gedung Putih dalam pernyataannya menegaskan bahwa aktivitas Houthi mengancam keselamatan warga sipil serta personel AS di Timur Tengah, serta merusak stabilitas perdagangan maritim global.
Sejak November 2023, kelompok ini telah melancarkan lebih dari 100 serangan terhadap kapal-kapal yang melewati Laut Merah, dengan klaim bahwa tindakan tersebut merupakan solidaritas terhadap Palestina dalam menghadapi agresi Israel terhadap Hamas di Gaza.
Serangan-serangan ini telah menyebabkan kerusakan serius, termasuk tenggelamnya dua kapal dan kematian empat pelaut, serta mengganggu jalur pelayaran global yang mengarah pada perubahan rute perjalanan yang lebih panjang dan mahal.
Pemerintahan Trump, dalam penetapannya, menggarisbawahi bahwa AS akan bekerja sama dengan mitra regional untuk menghapuskan kemampuan Houthi dan mengakhiri serangan-serangan mereka yang merugikan Amerika Serikat, sekutunya, dan perdagangan internasional.
Namun, di sisi lain, lembaga kemanusiaan seperti Oxfam mengkritik keputusan tersebut, menganggapnya akan semakin memperburuk penderitaan warga sipil Yaman. Mereka menyoroti bahwa langkah ini dapat mengganggu impor bahan pangan, obat-obatan, dan bahan bakar yang sangat dibutuhkan di tengah krisis kemanusiaan yang melanda negara itu.
Keputusan ini juga berpotensi memengaruhi hubungan dengan berbagai pihak yang bekerja di Yaman, seperti organisasi PBB dan LSM, yang mungkin terpaksa menghentikan kerja sama dengan entitas yang berhubungan dengan Houthi.
Gedung Putih juga menyatakan bahwa USAID akan mengakhiri hubungan dengan entitas yang mendukung Houthi atau yang menutup mata terhadap kegiatan teroris kelompok tersebut.
Meski demikian, beberapa tanda menunjukkan bahwa Houthi tampaknya mengurangi intensitas serangan di Laut Merah setelah adanya gencatan senjata multi-fase antara Israel dan Hamas. Pada hari yang sama, kelompok ini membebaskan awak kapal komersial Galaxy Leader, yang telah disandera lebih dari setahun setelah kapal tersebut disita di lepas pantai Yaman.