JAKARTA – Gunung Bawakaraeng bukan sekadar destinasi wisata alam di Sulawesi Selatan, tetapi juga menyimpan berbagai mitos, cerita mistis, dan kontroversi keagamaan.
Salah satu ajaran yang mengaitkan gunung ini dengan ritual keagamaan menyimpang adalah ajaran Petta Bau, yang mengklaim bahwa berhaji ke Gunung Bawakaraeng sama nilainya dengan berhaji ke Makkah.
Ajaran ini telah menimbulkan polemik dan menjadi perhatian serius dari pemerintah serta tokoh agama.
Berikut ini 5 fakta penting dari munculnya aliran sesat Petta Bau di Sulawesi Selatan, dirangkum dari berbagai sumber:
1. Gunung Bawakaraeng: Sakral dan Penuh Misteri
- Lokasi dan Keindahan Alam
Gunung Bawakaraeng terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dengan ketinggian sekitar 2.830 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Gunung ini terkenal dengan jalur pendakiannya yang menantang, pemandangan hutan tropis yang indah, serta udara yang sejuk.
Jalur utama pendakian dimulai dari Lembanna, Malino, dan terdiri dari 13 pos sebelum mencapai puncak.
- Kepercayaan Mistis dan Mitos yang Berkembang
Banyak masyarakat setempat menganggap Gunung Bawakaraeng sebagai tempat sakral.
Dalam tradisi leluhur, gunung ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah para wali.
- Beberapa kepercayaan mistis yang beredar di masyarakat antara lain:
Pintu Gaib ke Tanah Para Wali – Konon, ada dimensi lain di puncak gunung yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu.
Sosok Penjaga Gunung – Beberapa pendaki mengaku melihat sosok wanita misterius berbaju putih di antara pepohonan.
Suara Azan dan Perkampungan Gaib – Ada cerita tentang pendaki yang tersesat dan tiba-tiba menemukan perkampungan bercahaya, yang kemudian menghilang begitu saja.
Kepercayaan-kepercayaan ini kemudian berkembang menjadi praktik-praktik yang menyimpang dari ajaran Islam, termasuk ajaran Petta Bau yang mengajarkan konsep 11 rukun Islam dan menggantikan ibadah haji ke Makkah dengan perjalanan spiritual ke Gunung Bawakaraeng.
2. Ajaran Petta Bau: Ritual Sesat di Gunung Bawakaraeng
Siapa Petta Bau?
Petta Bau adalah seorang perempuan berusia 56 tahun yang berasal dari Malino, Kabupaten Gowa.
Ia dikenal sebagai pemimpin Tarekat Ana’ Loloa, sebuah ajaran yang diduga menyimpang dari Islam.
Salah satu ajaran utama Petta Bau adalah bahwa rukun Islam bukan lima, tetapi sebelas, serta meyakini bahwa berhaji ke Gunung Bawakaraeng lebih utama daripada ke Makkah.
Ajaran yang Menyimpang
Dalam ajarannya, Petta Bau mengajarkan bahwa:
- Berhaji ke Gunung Bawakaraeng lebih utama daripada ke Makkah.
- Rukun Islam ada 11, bukan lima seperti yang diajarkan dalam Islam.
- Ajaran ini ia peroleh dari mimpi, di mana ia mengaku mendapat wahyu dari Nabi Khidir.
- Syariat Islam tidak wajib dijalankan secara kaku, melainkan bisa dimodifikasi sesuai kondisi.
Ajaran ini bertentangan dengan prinsip Islam yang telah baku. Namun, Petta Bau tetap memiliki pengikut yang mempercayainya dan menjalankan ritual-ritual tertentu di Gunung Bawakaraeng, terutama saat musim haji tiba.
3. Reaksi Pemerintah dan Tokoh Agama
Tindakan Kementerian Agama dan MUI
Kasus ini mendapat perhatian dari Kementerian Agama (Kemenag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Maros.
Mereka menyatakan bahwa ajaran Petta Bau termasuk ajaran menyimpang, karena bertentangan dengan prinsip Islam yang telah ditetapkan oleh syariat.
Kemenag telah mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
- Membentuk Tim Deteksi Dini untuk mencegah penyebaran ajaran ini.
- Melakukan edukasi dan pembinaan terhadap para pengikut ajaran Petta Bau.
- Bekerja sama dengan aparat penegak hukum, termasuk Polsek Tompobulu, Kesbangpol, dan MUI setempat.
Pendekatan Persuasif dan Sosialisasi
Pemerintah lebih memilih pendekatan persuasif dan edukatif dibanding tindakan hukum langsung.
Kepala KUA Tompobulu, Danial, menyatakan bahwa pembinaan menjadi langkah utama agar para pengikut Petta Bau kembali ke ajaran Islam yang benar.
“Kami akan memastikan Petta Bau dan para pengikutnya mendapatkan pembinaan.”
“Sebab, bisa jadi kemunculan dan penyebaran ajaran ini disebabkan oleh lemahnya pemahaman agama mereka,” ujar Danial.
4. Ritual Haji Palsu di Gunung Bawakaraeng
Meski telah dilarang, praktik “haji ke Gunung Bawakaraeng” masih terjadi hingga kini.
Para pengikut ajaran ini naik ke puncak gunung dengan pakaian ihram, membawa sesajen, dan melaksanakan ritual yang menyerupai prosesi ibadah haji di Makkah.
Beberapa tahapan ritual yang dilakukan:
- Thawaf mengelilingi batu tertentu di puncak gunung.
- Wukuf di area tertentu yang dianggap suci.
- Melempar batu ke arah jurang sebagai simbol melempar jumrah.
- Praktik ini dianggap menyesatkan, karena Islam telah menetapkan bahwa ibadah haji hanya sah jika dilakukan di Tanah Suci Makkah.
5. Kesimpulan: Gunung Bawakaraeng, Antara Kepercayaan dan Penyimpangan
Gunung Bawakaraeng tetap menjadi tempat yang penuh misteri dan makna bagi masyarakat Sulawesi Selatan.
Di satu sisi, gunung ini adalah destinasi pendakian yang indah dan kaya sejarah, namun di sisi lain, gunung ini sering dikaitkan dengan praktik spiritual yang menyimpang.
Ajaran Petta Bau telah menuai kontroversi karena mengajarkan konsep yang bertentangan dengan Islam.
Pemerintah dan tokoh agama terus berupaya menangani penyebaran ajaran ini melalui pembinaan dan edukasi, agar masyarakat tidak mudah terjerumus dalam ajaran yang tidak berdasar.
Bagi para pendaki dan wisatawan, Gunung Bawakaraeng tetap menjadi tempat yang layak dikunjungi, dengan catatan untuk selalu menghormati budaya lokal serta menjaga nilai-nilai agama yang benar.***