KYIV, UKRAINA – Rusia secara resmi memperingatkan seluruh warga negara asing, termasuk personel diplomatik dan organisasi internasional, untuk segera meninggalkan ibu kota Ukraina. Peringatan ini disampaikan Moskow menjelang operasi militer yang disebut sebagai pembalasan terhadap “pusat pengambilan keputusan” di Kyiv.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa serangan balasan akan menargetkan pusat-pusat komando dan pengambilan keputusan militer Ukraina. Dalam pernyataan resminya, kementerian tersebut mendesak agar warga asing “segera meninggalkan Kyiv demi keselamatan mereka”.
Peringatan keras ini muncul hanya sehari setelah serangkaian serangan Ukraina yang menewaskan sedikitnya enam warga sipil di wilayah Rusia.
Korban Sipil di Rusia dan Latar Belakang Serangan Balasan
Di wilayah Bryansk, serangan artileri Ukraina menewaskan satu orang dan melukai satu lainnya di desa Belaya Beryozka. Beberapa gedung apartemen, rumah pribadi, dan fasilitas umum dilaporkan rusak berat.
Sementara itu, di wilayah Donetsk yang dikuasai Rusia, serangan drone menewaskan empat orang, termasuk dua anak di bawah umur. Wali Kota Ivan Gorlovkin yang ditunjuk Rusia mengonfirmasi kejadian tersebut.
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat 173 drone Ukraina di 14 wilayah berbeda, termasuk Krimea yang dianeksasi Rusia.
Sebaliknya, Staf Umum Ukraina mengklaim pasukan Rusia meluncurkan 262 drone dalam semalam, dengan 246 di antaranya berhasil dicegat atau dinetralkan.
Di wilayah Kharkiv, serangan drone Rusia dilaporkan menyasar kota Kharkiv dan 21 pemukiman lainnya dalam 24 jam terakhir. Kepala administrasi militer wilayah tersebut, Oleh Syniehubov, menyebutkan 18 orang terluka, termasuk seorang anak.
Di wilayah Sumy, satu orang tewas dan empat lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Rusia, kata Gubernur Oleh Hryhorov.
Eskalasi Konflik dan Dampak terhadap Diplomasi Internasional
Peringatan evakuasi dari Rusia ini menandai eskalasi verbal dan militer yang semakin serius. Langkah ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa Moskow sedang mempersiapkan operasi skala besar terhadap infrastruktur penting di Kyiv.
Para analis melihat peringatan ini sebagai upaya Rusia untuk membatasi kehadiran saksi internasional sekaligus memberikan tekanan psikologis terhadap pemerintah Ukraina dan mitra Baratnya. Kehadiran diplomat asing di Kyiv selama ini dianggap sebagai salah satu bentuk dukungan simbolis bagi Ukraina.
“Serangan pembalasan akan menargetkan pusat pengambilan keputusan dan pos komando,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia yang menekankan fokus target militer.
Meski demikian, verifikasi independen terhadap klaim korban dan serangan dari kedua belah pihak masih sangat sulit dilakukan karena kabut perang yang masih tebal.
Situasi Terkini Perang Rusia-Ukraina
Konflik yang telah memasuki tahun kelima ini terus ditandai dengan pertempuran drone skala besar dan serangan balasan yang saling menyakiti warga sipil. Dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak semakin intensif menggunakan drone sebagai senjata utama untuk menyerang wilayah belakang lawan.
Peringatan evakuasi ini muncul di tengah kekhawatiran internasional akan semakin meluasnya korban sipil. Organisasi hak asasi manusia sebelumnya telah berulang kali mengecam serangan terhadap pemukiman sipil di kedua pihak.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari pemerintah Ukraina maupun Kedutaan Besar negara-negara Barat di Kyiv terkait peringatan Rusia tersebut. Namun, sumber diplomatik menyebutkan beberapa negara sudah mulai mempertimbangkan langkah pengurangan staf non-esensial di ibu kota Ukraina.