BEIJING – Pemerintah China bereaksi keras terhadap kebijakan tarif dagang baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Tarif tambahan sebesar 34% terhadap barang-barang asal China langsung memicu kegelisahan pasar global, serta memantik respons diplomatik dan ekonomi dari Beijing.
Guo Jiakun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, menegaskan bahwa China tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan tarif dari AS.
“Pasar telah berbicara,” tegas Guo dalam unggahan Facebook, Sabtu (5/4/2025), sambil menampilkan grafik penurunan tajam indeks pasar AS usai kebijakan diumumkan.
Pemerintah China menilai kebijakan Trump sebagai bentuk tekanan sepihak yang mengancam stabilitas sistem perdagangan internasional. Melalui kantor berita Xinhua, Beijing menyerukan agar Washington segera menghentikan penggunaan tarif sebagai alat tekanan dan segera membuka jalur konsultasi yang setara.
“Washington secara serius merusak sistem perdagangan multilateral berbasis aturan, dan secara serius merusak stabilitas tatanan ekonomi global,” tulis pernyataan resmi Pemerintah China.
Tak hanya mengecam, China juga langsung membalas dengan mengenakan tarif serupa sebesar 34% terhadap produk asal AS.
Selain itu, pembatasan ekspor pada sejumlah komoditas penting seperti tanah jarang juga mulai diterapkan, menandai eskalasi terbaru dalam perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Trump sebelumnya menyatakan tidak akan mengubah kebijakan meskipun terjadi kejatuhan pasar. Paket tarif ini juga disertai dengan penutupan celah impor bebas bea atas paket bernilai rendah dari China.
Langkah Trump ini langsung memicu gejolak di pasar saham, kripto, hingga komoditas global, dengan indeks utama mencatat penurunan terbesar sejak era pandemi COVID-19.
Berbagai asosiasi industri di China, dari logam hingga elektronik, turut mengecam tarif tersebut. Kamar Dagang China menyerukan solidaritas pelaku usaha untuk memperkuat pasar domestik dan mengeksplorasi peluang ekspor baru.
Sementara itu, Menteri Keuangan Hong Kong Paul Chan menegaskan penolakan terhadap kebijakan AS namun memilih untuk tidak menerapkan balasan terpisah.
“Membiarkan aliran modal bebas dan bertindak sebagai pelabuhan bebas adalah keuntungan kami, dan ini tidak akan berubah,” ujarnya kepada RTHK.
China memastikan akan terus mengambil langkah strategis demi menjaga hak pembangunan nasional dan kestabilan ekonomi dalam negeri di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi.