JAKARTA – Kerusakan hulu sungai yang memicu banjir besar kembali menjadi perhatian pemerintah melalui pernyataan tegas Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dalam kegiatan susur Sungai Ciliwung pada peringatan Hari Bakti ke-80 PU.
Peringatan ini disampaikan langsung di kawasan Sungai Ciliwung sebagai bentuk penegasan bahwa kerusakan hulu, sedimentasi, dan minimnya kepedulian masyarakat terhadap aliran sungai menjadi faktor utama meningkatnya risiko banjir di Jakarta.
Isu banjir Ciliwung kembali menyeruak setelah pemerintah pusat menemukan kondisi sungai yang semakin kritis akibat rusaknya kawasan hulu serta tingginya lumpur yang terus turun ke badan sungai setiap kali hujan.
Menteri PU Dody Hanggodo menekankan bahwa kerusakan hulu sungai dan sedimentasi ekstrem sudah menjadi ancaman langsung yang memicu terjadinya banjir besar di berbagai wilayah.
Dalam paparannya ia menyebut kerusakan kawasan aliran sungai diperburuk oleh rendahnya kepedulian masyarakat sehingga upaya rehabilitasi tidak berjalan maksimal.
Dody menegaskan fokus Hari Bakti ke-80 PU tahun ini sengaja diarahkan pada isu sungai untuk menunjukkan urgensi perbaikan hulu demi mencegah banjir berulang.
“Kalau kita tidak perhatikan sungainya, kita biarkan hulu kita hancur, yang turun adalah sedimen, yang turun adalah lumpur. Sungainya marah, maka pada saat hujan, banjir di mana-mana,” ucap Dody, Jumat (21/11/2025).
Ia juga mengatakan bahwa hampir semua sungai yang ia kunjungi kini berubah menjadi coklat pekat yang menunjukkan tingginya sedimentasi.
Menurutnya, pemerintah pusat tidak dapat bekerja sendirian tanpa dukungan penuh pemerintah daerah dan kedisiplinan warga untuk menjaga kebersihan sungai.
Dody mendesak masyarakat menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai agar kerusakan hulu tidak semakin meluas.
“Rehabilitasi yang kita kerjakan, tidak akan maksimal, tanpa disupport oleh pemerintah daerah, dan masyarakat setempat yang ikut menjaga hulunya,” katanya.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa normalisasi Sungai Ciliwung kini memasuki tahap percepatan terutama dalam proses pembebasan lahan yang ditargetkan tuntas awal 2026.
“Kami akan melanjutkan normalisasi Ciliwung, pembebasan lahan dilakukan pemerintah DKI Jakarta, sementara pembangunan tanggul oleh Kementerian PU. Sinergi ini kami yakini membuat kondisi sungai lebih baik,” kata Pramono.
Ia juga menuturkan bahwa pemerintah provinsi sedang mempercepat penanganan Kali Krukut sepanjang 1,3 kilometer untuk mencegah banjir rutin di kawasan Kemang dan sekitarnya.
“Kalau tidak dilakukan, maka daerah Kemang, Kemang Village, Kemcik, dan sebagainya. Semua pasti akan banjir terus-menerus, dan banjirnya sudah sangat mengganggu,” ucapnya.
Pramono memastikan berbagai aliran sungai lain termasuk Sungai Pesanggrahan tetap dipantau dan dirawat dengan ketat menjelang periode cuaca ekstrem.
“Sampai bulan Februari Jakarta siaga hal yang berkaitan dengan banjir,” ujar Pramono.***