TIRANA, ALBANIA -Perdana Menteri Albania Edi Rama resmi menunjuk kecerdasan buatan (AI) sebagai menteri anti-korupsi, menjadikan Albania negara pertama di dunia yang menempatkan AI dalam posisi kabinet untuk mengawasi pengadaan barang dan jasa publik.
Pengangkatan AI bernama Diella ini diumumkan secara resmi dalam pertemuan majelis Partai Sosialis Albania pada Minggu, 14 September 2025. Diella, yang dalam bahasa Albania berarti “sinar matahari”, dirancang khusus untuk mengawasi seluruh proses pengadaan publik. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap tender dan kontrak pemerintah berjalan 100% bebas korupsi serta sepenuhnya transparan, sehingga menghilangkan celah-celah yang sering dimanfaatkan untuk praktik curang.
Menurut pernyataan resmi pemerintah Albania, Diella bukan sekadar entitas virtual, melainkan alat nyata yang telah terintegrasi dalam platform digital e-Albania. Platform ini menyediakan layanan pemerintahan elektronik bagi warga, di mana Diella sudah dikenal sebagai avatar perempuan berpakaian tradisional Albania.
Dengan penunjukan ini, proses pengambilan keputusan dalam pengadaan akan secara bertahap dialihkan dari kementerian ke tangan Diella, guna meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas.
“Ini bukan fiksi ilmiah, melainkan tugas Diella,” tegas Perdana Menteri Edi Rama dalam pidatonya di majelis partai. Langkah ini diharapkan merevolusi birokrasi Albania, yang selama ini menghadapi tantangan korupsi endemik.
Albania negara Balkan yang bergabung dengan NATO pada 2009 dan tengah berupaya masuk Uni Eropa—melihat AI sebagai solusi modern untuk mempercepat reformasi tata kelola.
Penunjukan Diella menandai era baru di mana teknologi digital berperan langsung dalam kebijakan pemerintahan.
Saat ini, Diella akan mulai mengelola data pengadaan secara real-time, mendeteksi anomali, dan memberikan rekomendasi berbasis algoritma untuk mencegah penyalahgunaan dana publik.
Pemerintah menekankan bahwa transisi ini akan dilakukan secara bertahap untuk menghindari gangguan operasional, sambil terus melatih sistem AI agar lebih adaptif terhadap regulasi lokal.
Inovasi ini mencerminkan tren global di mana AI semakin banyak diadopsi untuk tugas-tugas sensitif seperti audit keuangan dan pencegahan korupsi.
Di Albania, Diella diharapkan tidak hanya membersihkan proses pengadaan senilai miliaran euro, tetapi juga membangun kembali kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Para ahli teknologi memuji langkah ini sebagai contoh nyata bagaimana negara berkembang bisa memanfaatkan AI untuk melakukan lompatan besar dalam reformasi.
Pemerintah Albania berjanji akan memantau perkembangan Diella secara ketat, termasuk aspek etika dan privasi data, guna memastikan bahwa teknologi ini benar-benar mendukung misi anti-korupsi tanpa menimbulkan isu baru.
Pengumuman ini langsung menarik perhatian internasional, dengan harapan agar model Albania dapat diadopsi oleh negara-negara lain yang bergulat dengan masalah serupa.