TEHERAN, IRAN – Pemerintah Iran menegaskan bahwa persediaan uranium yang telah diperkaya tidak akan dipindahkan ke negara mana pun. Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Teheran bersedia menyerahkan material nuklirnya kepada Washington.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, secara tegas menyatakan bahwa isu pemindahan uranium tidak pernah menjadi bagian dari agenda perundingan antara kedua negara.
“Uranium yang diperkaya Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun,” kata Baqaei. Ia menambahkan, “Pemindahan uranium yang diperkaya Iran ke AS tidak pernah dibahas dalam negosiasi.”
Sebelumnya, Trump melalui unggahan di platform Truth Social mengklaim bahwa Amerika Serikat akan memperoleh seluruh “debu” nuklir Iran. Istilah tersebut merujuk pada uranium yang disebutnya terkubur akibat serangan militer AS ke Iran pada tahun lalu.
Namun, Baqaei meluruskan bahwa fokus utama pembicaraan terbaru antara Iran dan AS bukanlah soal pemulihan atau penguasaan uranium, melainkan upaya mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
“Negosiasi sebelumnya berfokus pada masalah nuklir, namun sekarang negosiasi berfokus pada mengakhiri perang, dan tentu saja cakupan topik yang dibahas menjadi lebih luas dan lebih beragam,” ujarnya.
Selain membantah klaim terkait uranium, Iran juga mengkritik pernyataan Trump mengenai keberlanjutan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Washington disebut akan mempertahankan blokade hingga tercapai kesepakatan damai, meskipun Iran telah menyatakan bahwa jalur pelayaran strategis Selat Hormuz kembali dibuka.
Menanggapi hal tersebut, Baqaei menegaskan bahwa situasi di lapangan tidak bisa ditentukan secara sepihak melalui pernyataan publik.
“Pembukaan dan penutupan Selat Hormuz tidak terjadi di internet, tetapi ditentukan di lapangan, dan angkatan bersenjata kita tentu tahu bagaimana harus bertindak sebagai respons terhadap tindakan apa pun dari pihak lain,” tegasnya.
Di tengah ketegangan tersebut, perhatian internasional tetap tertuju pada kapasitas nuklir Iran. Negara itu diyakini masih memiliki cadangan uranium yang diperkaya hingga tingkat 60 persen—mendekati ambang 90 persen yang dibutuhkan untuk produksi senjata nuklir.
Sebelum serangan militer AS pada Juni 2025, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperkirakan Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan 60 persen. Angka tersebut jauh melampaui batas 3,67 persen yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir tahun 2015.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa isu nuklir Iran tetap menjadi sumber ketegangan global, meskipun fokus diplomasi saat ini mulai bergeser ke arah penghentian konflik yang lebih luas.