Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kian intens. Dalam tenggat waktu hanya 13 menit, gunung api tersebut tercatat mengalami dua kali letusan beruntun pada Jumat (9/10/2026) sore.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat dua letusan berturut-turut tersebut terjadi pada pukul 16.17 WIB dan 16.30 WIB dengan semburan abu vulkanik berwarna kelabu hingga hitam pekat.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Suwarno, membeberkan dinamika dari kedua letusan tersebut.
“Erupsi pertama pukul 16.17 WIB menyemburkan kolom abu setinggi 250 meter di atas puncak, bergerak ke utara dan barat laut dengan durasi 3 menit 46 detik. Selang 13 menit kemudian, erupsi kedua terjadi pukul 16.30 WIB dengan tinggi kolom 150 meter bergerak ke utara, timur laut, dan barat,” jelas Suwarno, Jumat (9/10/2026).
Erupsi Kedua Lebih Singkat, Namun Getaran Lebih Kuat
Meski letusan kedua menghasilkan kolom abu yang lebih rendah (150 meter di atas puncak), PVMBG mencatat lonjakan energi getaran yang cukup signifikan.
-
Erupsi Pertama (16.17 WIB): Amplitudo maksimum 39 mm, durasi 3 menit 46 detik.
-
Erupsi Kedua (16.30 WIB): Amplitudo maksimum 56 mm, durasi 36 detik.
Rentetan letusan sore ini menambah panjang deretan aktivitas vulkanik Anak Krakatau setelah sehari sebelumnya, Kamis (8/10/2026) malam, juga terekam mengalami erupsi selama 4 menit 45 detik.
Meskipun terjadi rentetan letusan berulang, PVMBG mengonfirmasi bahwa tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih bertahan pada Level II (Waspada).
Guna mengantisipasi potensi bahaya lontaran material pijar maupun gas beracun, otoritas melarang keras seluruh bentuk aktivitas manusia di dekat area kawah.
“Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan diimbau untuk tidak mendekati atau beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. Rekomendasi keselamatan ini wajib dipatuhi,” tegas Suwarno.